13 Fakta Dibalik kehebohan Film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI


wp-1496991758708.13 Fakta Dibalik kehebohan Film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI

  1. Masih ingatkah Anda kapan terakhir kali menyaksikan pemutaran film ‘Pengkhianatan G30S’? Film berdurasi 4 jam yang wajib disiarkan saban malam tanggal 30 September itu tak lagi tayang di televisi mulai tahun 1998. Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam mengatakan ada cerita di balik distopnya penyiaran film yang mendiskreditkan PKI itu. “Waktu itu ada permintaan dari Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara Republik Indonesia (PP AURI),” kata Asvi saat dihubungi Tempo, Kamis, 27 September 2012. Tokoh dari angkatan udara saat itu, Marsekal Udara Saleh Basarah menelepon Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono dan Menteri Penerangan Yunus Yosfiah.”Pak Saleh minta supaya film itu tidak diputar lagi,” kata Asvi. Pada bulan September 1998, empat bulan setelah jatuhnya Soeharto, Menteri Penerangan Yunus Yosfiah menyatakan bahwa film ini tidak akan lagi menjadi bahan tontonan wajib, dengan alasan bahwa film ini adalah usaha untuk memanipulasi sejarah dan menciptakan kultus dengan Soeharto di tengahnya. TEMPO melaporkan pada 2012 bahwa Saleh Basarah dari Angkatan Udara telah mempengaruhi dikeluarkannya keputusan ini. Majalah ini menyatakan bahwa Basarah telah menghubungi Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono dan memintanya untuk tidak menayangkan Pengkhianatan G 30 S PKI, karena film ini telah merusak citra Angkatan Udara Republik Indonesia. Dua film lainnya, Janur Kuning (1979) dan Serangan Fajar, kemudian juga dipengaruhi oleh keputusan tersebut; Janur Kuning menggambarkan Soeharto sebagai pahlawan di balik Serangan Umum 1 Maret 1949, sementara Serangan Fajar menunjukkan dia sebagai pahlawan utama Revolusi Indonesia. Pada saat itu TVRI tampaknya berusaha untuk menjauhkan diri dari mantan presiden Soeharto. Hal ini terjadi semasa periode penurunan status simbol-simbol yang berkaitan dengan peristiwa G30S, dan pada dekade 2000-an awal, versi non-pemerintah dari peristiwa kudeta G30S mudah didapatkan di Indonesia
  2. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH.Ma’ruf Amin mendukung pemutaran kembali film dokumenter G 30 S/PKI di stasiun televisi Nasional agar masyarakat dapat mengingat keganasan Partai Komunis Indonesia (PKI). Film tersebut selama ini diputar di televisi setiap tanggal 30 September. Namun, pasca Reformasi 1998 dihentikan. “Saya kira nggak masalah. Diputar lagi supaya orang ingat lagi soalnya PKI itu pernah berontak,”katanya kepada sejumlah wartawab seusai pengukuhan Pengurus MUI Masa Khidmat 2015-2010 di Kantor MUI Pusat, Jl Proklamasi No.51, Jakarta, Selasa (29/9). Kiyai Ma’ruf juga membantah bahwa di dalam film tersebut terjadi manipulasi sejarah. Dia menegaskan, PKI melakukan pemberontakan adalah fakta. “Kalau menurut saya memang PKI itu memberontak. Itu fakta sejarah,” tegasnya. Kiyai Ma’ruf juga menghimbau kepada umat Islam untuk mewaspadai bangkitnya kembali gerakan PKI. Termasuk dalam wujud Komunisme Gaya Baru. “Kita waspada saja, kalau itu mungkin ada Komunisme gaya baru,”tandas Rais Amm PBNU itu.
  3. Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab menyerukan agar stasiun televisi nasional kembali memutar film G 30 S/PKI setiap tanggal 30 September. Seruan itu bertujuan agar masyarakat khususnya generasi muda mengetahui pengkhianatan dan kebiadaban Partai Komunis Indonesia (PKI) di kala itu. “Sehingga publik paham bahwa pemerintah RI haram meminta maaf kepada PKI,” katanya dalam rilis yang diterima kiblat.net, pada Selasa (29/9).
  4. Film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI dibuat berdasarkan pada versi peristiwa kudeta yang diakui oleh pemerintah Orde Baru Soeharto, di mana kudeta Gerakan 30 September didalangi oleh Partai Komunis Indonesia atau PKI. Pada awal 1960-an, PKI dan partai-partai sayap kiri lainnya mendapat dukungan dari Presiden Soekarno, memberi mereka kekuatan politik yang besar. Pada tahun 1965 PKI telah mempunyai jutaan anggota, jumlah semakin besar ini dipengaruhi oleh adanya hiperinflasi dan kemiskinan yang meluas. TNI Angkatan Darat, bagaimanapun, telah saling tidak sejalan dengan PKI, sebuah situasi yang berbalas dengan PKI.Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI disutradarai oleh Arifin C. Noer, sutradara pemenang Piala Citra dengan latar belakang teater. Dia memiliki pengalaman sebelumnya dalam genre ini, setelah membuat film perang Serangan Fajar (1981), yang menekankan peran Soeharto dalam Revolusi Nasional Indonesia.[13] Noer ditugaskan untuk mengerjakan film ini oleh Pusat Produksi Film Negara (PPFN) milik negara, yang mempunyai kontrol atas proses produksi film ini. Profesor budaya Indonesia Krishna Sen dan David T. Hill berpendapat bahwa masukan kreatif Noer sangat minim dalam film ini. Sebaliknya, “untuk segala maksud dan tujuan”, film ini adalah karya produsernya, Brigadir Jenderal Gufran Dwipayana, yang kala itu menjabat sebagai kepala PPFN sekaligus anggota staf kepresidenan. Namun, istri Noer, Jajang C. Noer bersikeras bahwa suaminya tetap bersikap independen saat pembuatan film ini.
    Film tersebut berdasarkan pada sebuah laporan yang ditulis oleh Nugroho Notosusanto (gambar) dan Ismail Saleh.
  5. Skenario Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI didasarkan pada sebuah buku tahun 1968 yang ditulis oleh sejarawan militer Nugroho Notosusanto dan penyidik Ismail Saleh yang berjudul Tragedi Nasional Percobaan Kup G 30 S/PKI di Indonesia. Buku yang dimaksudkan untuk melawan teori asing tentang kudeta tersebut, menjelaskan secara rinci Gerakan September 30 ini sebagaimana pemerintah melihatnya. Hanya Notosusanto, yang berpangkat lebih tinggi dari dua penulis tersebut, dihargai untuk kontribusinya. Dalam mengadaptasi buku tersebut, Noer membaca banyak literatur yang tersedia (termasuk dokumen pengadilan) dan mewawancarai sejumlah saksi mata; Jajang, dalam sebuah wawancara tahun 1998, mengatakan bahwa suaminya tidak hanya membaca versi resmi pemerintah, tetapi juga dokumen Cornell Paper yang kontroversial, yang menggambarkan bahwa peristiwa kudeta ini sepenuhnya merupakan urusan intern Angkatan Darat. Selama syuting, kru menekankan realisme, “memberikan perhatian besar terhadap detail” dan menggunakan rumah sebenarnya dari para jenderal yang diculik dalam peristiwa tersebut.
  6. Karena besarnya jumlah peran – termasuk beberapa bagian 100 peran kecil dan lebih dari 10.000 pemeran tambahan[20] – casting atau pencarian pemeran untuk Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI adalah sulit. Noer mencoba untuk menempatkan aktor yang mirip dengan tokoh-tokoh sejarah yang digambarkan; Rano Karno kemudian mengingat bahwa ia ditolak untuk peran Pierre Tendean karena Tendean tidak memiliki tahi lalat di wajahnya. Pada akhirnya film ini dibintangi Bram Adrianto sebagai Untung Sjamsuri, Amoroso Katamsi sebagai Soeharto, Umar Kayam sebagai Soekarno, dan Syubah Asa sebagai DN Aidit; aktor lainnya antara lain Ade Irawan, Sofia WD, Dani Marsuni, dan Charlie Sahetapy. Kayam, kala itu seorang dosen di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, tidak punya waktu untuk meriset perilaku Soekarno dari buku-buku dan pidatonya; sebagai gantinya, ia menggambarkan presiden tersebut berdasarkan testimonial dari staf di Istana Bogor. Katamsi, di sisi lain, mempelajari peran Soeharto dari buku, dan pada saat syuting telah dimulai, merasa seolah-olah dia “sebagai Pak Harto, bukan imitasi Pak Harto.” Sementara itu, Syubah Asa menganggap kurang menguasai penampilannya sendiri.
  7. Produksi Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI, awalnya berjudul Sejarah Orde Baru, memakan waktu hampir dua tahun, menghabiskan empat bulan dalam pra-produksi dan satu setengah tahun dalam pembuatan film. Biaya film ini Rp. 800 juta, mendapat pendanaan dari pemerintah kala itu. Sinematografi film ini ditangani oleh Hasan Basri, dengan penataan musik oleh saudara Arifin, Embie C. Noer. Penyuntingan film dilakukan oleh Supandi. Bagian dari film, khususnya sepuluh menit akhir, menggunakan kembali rekaman arsip dan kliping koran kontemporer kala itu yang sehubungan peristiwa tersebut.
  8. Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI menggambarkan PKI dan komunisme sebagai jahat pada dasarnya, dengan pengikutnya “tidak bisa diselamatkan”,[28] di mana pimpinan G30S dipandang sebagai licik dan kejam, dan merencanakan “setiap langkah dengan terperinci”.[1] Sejarawan Katherine McGregor menemukan hal ini ditekankan dalam film ini yang menggambarkan pimpinan G30S sebagai gangster, duduk dalam pertemuan rahasia di tengah-tengah kepulan asap rokok. Dia juga menganggap sebuah adegan pembuka film, di mana PKI menyerang sebuah sekolah Islam, juga dengan sengaja dimaksudkan untuk menunjukkan sifat “jahat” komunis.
  9. PKI digambarkan menikmati kekerasan, dengan film ini sangat menampilkan adegan “perempuan yang mencungkil mata dan tubuh yang membusuk dan disiksa”. Para jenderal diculik, dan dalam beberapa kasus tewas dibunuh di depan keluarga mereka; kemudian jenderal yang ditangkap disiksa saat komunis menari di sekitar api unggun.[30] Sosiolog Adrian Vickers berpendapat bahwa kekerasan film ini dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa “musuh-musuh negara ada di luar alam manusia”, mirip dengan monster dalam sebuah film horor. Yoseph Yapi Taum dari Universitas Sanata Dharma mencatat bahwa anggota gerakan perempuan sayap kiri Gerwani disajikan film ini sebagai bagian dari Partai Komunis yang “gila”, menari telanjang dan memotong penis jenderal yang diculik. Namun, Vickers menganggap penggambaran ini sebagai ambigu, menunjukkan bahwa pemerintahan Orde Baru diizinkan memonopoli kekerasan. McGregor menunjukkan bahwa kekerasan yang terjadi di rumah yang sebelumnya tenang menunjukkan “‘penghancuran’ keluarga”. Sen mencatat bahwa kekerasan dalam film ini memungkiri “representasi kekacauan sebelum keteraturan” yang umum dalam film-film era Orde Baru.
  10. Sebelum penayangan komersialnya, Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI disajikan pra-tayang untuk para perwira militer Indonesia berpangkat tinggi yang telah terlibat dalam operasi menghentikan kudeta G30S, termasuk Soeharto dan Sarwo Edhie Wibowo. Film ini dirilis secara komersial pada tahun 1984, sebagai film domestik pertama yang dirilis secara komersial tentang peristiwa 1965 tersebut. Film ini ditonton oleh 699.282 orang di Jakarta pada akhir tahun 1984, sebuah rekor nasional yang tetap tak terlampaui selama lebih dari satu dekade. Namun, tidak semua pemirsanya hadir atas kemauan mereka sendiri. Sosiolog Ariel Heryanto mencatat bahwa murid sekolah Indonesia “diminta untuk membayar” untuk melihat film ini selama jam sekolah, sebuah fakta yang tidak ditulis dalam catatan kontemporer kala itu.[33] Sebuah novelisasi oleh penulis fiksi populer Arswendo Atmowiloto juga telah membantu mempromosikan film ini.
  11. Pengaruh produser Dwipayana memastikan bahwa ulasan dan tinjauan kontemporer kala itu, terutama sinopsis, mengulangi posisi pemerintah tentang kudeta G30S. Hal ini bukan untuk mengatakan bahwa semua ulasan kritis tentang film ini haruslah positif. Marselli dari harian KOMPAS misalnya, menemukan bahwa film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI adalah sangat rinci, dengan pengerjaan yang luas dan kualitas akting akan mewakili peristiwa secara akurat. Namun dia merasa, bahwa film ini terasa terlalu panjang, dan karena pemirsa langsung tahu siapa karakter yang baik dan buruk, film ini menjadi “…hanyalah lukisan hitam-putih tanpa persoalan kompleks.”, yang mengabaikan masalah mendasar yang telah memicu gerakan G30S.
  12. Soeharto, setelah melihat penayangan awal film ini, menyatakan bahwa cerita film ini belum selesai dan menyarankan bahwa sebuah sekuel diperlukan. Dua sekuel oleh PPFN, Operasi Trisula (1987) dan Djakarta 1966 (1988) kemudian mengikuti.[36] Operasi Trisula disutradarai oleh BZ Kadaryono, menceritakan tentang pemberantasan G30S dan anggota PKI di Blitar, Jawa Timur. Sementara Djakarta 1966 disutradarai kembali oleh Noer dan menunjukkan peristiwa menjelang penandatanganan Supersemar pada 11 Maret 1966, di mana Soekarno memberikan wewenang pada Soeharto untuk mengambil tindakan apapun yang “dianggap perlu”; Kayam dan Katamsi kembali mengambil peran mereka dalam film sekuel ini, yang memenangkan tujuh penghargaan di Festival Film Bandung 1989
  13. Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI menerima tujuh nominasi dalam Festival Film Indonesia 1984, memenangkan satu penghargaan Citra untuk Skenario Terbaik. Film ini kalah dalam empat kategori, sebagai Sutradara Terbaik, Sinematografi Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, dan Penataan Musik Terbaik, oleh film Budak Nafsu karya Sjumandjaja, sementara Ponirah terpidana karya Slamet Rahardjo memenangi Penataan Artistik Terbaik. pada Festival Film Indonesia 1985 Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI menerima Piala Antemas (Penghargaan Khusus) sebagai Film Unggulan Terlaris periode 1984-1985.Pengamat film Thomas Barker berpendapat bahwa penghargaan film tersebut, sebagian merupakan gabungan dari kepentingan negara dan FFI: keduanya berfokus pada mempromosikan budaya nasional yang bersatu.
    Penghargaan Tahun Kategori Penerima Hasil
    Festival Film Indonesia 1984 Film Terbaik Nominasi
    Penyutradaraan Terbaik Arifin C. Noer Nominasi
    Skenario Terbaik Arifin C. Noer Menang
    Sinematografi Terbaik Hasan Basri Nominasi
    Penataan Artistik Terbaik Farraz Effendy Nominasi
    Penataan Musik Terbaik Embie C. Noer Nominasi
    Pemeran Utama Pria Terbaik Amoroso Katamsi Nominasi
    1985 Film Terlaris Menang
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s