Sumber Dana dan Kehebatan Keuangan ISIS


image

Negara Islam Irak dan Syam (NIIS atau ISI) juga dikenal dengan nama Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS atau ISIS), Negara Islam Irak dan asy-Syam, Daesh, atau Negara Islam (NI atau IS), adalah kelompok militan ekstremis jihadis Salafi/Wahhabi. Kelompok ini dipimpin oleh dan didominasi oleh anggota Arab Sunni dari Irak dan Suriah. Pada Maret 2015, NIIS menguasai wilayah berpenduduk 10 juta orang di Irak dan Suriah. Lewat kelompok lokalnya, NIIS juga menguasai wilayah kecil di Libya, Nigeria, dan Afghanistan. Kelompok ini juga beroperasi atau memiliki afiliasi di berbagai wilayah dunia, termasuk Afrika Utara dan Asia Selatan. ISIS merupakan kelompok militas ekstremis jihad yang paling kaya dan sumber dana yang luar biasa kuat.

Sistem Keuangan dan Pendanaan

Sistem keuangan

Pada tanggal 11 November 2014, NIIS mengumumkan rencananya untuk mencetak koin emas, perak, dan tembaga sendiri berdasarkan koinKekhalifahan Umayyah pada abad ke-7. Setelah pengumuman tersebut, NIIS mulai membeli emas, perak, dan tembaga di pasar-pasar di Irak utara dan barat. Para anggota kelompok ini juga kabarnya mulai mencabut insulasi kabel listrik untuk memanfaatkan kabel tembaganya. Koin tersebut menampilkan peta dunia, pedang dan tameng, Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, dan bulan sabit. Pakar ekonomi seperti Steven H. Hanke dariUniversitas Johns Hopkins tidak yakin dengan rencana tersebut. Laporan selanjutnya menduga bahwa koin yang diedarkan di Mosul hanya dilapisi emas dan nilainya tidak sama seperti koin emas asli.

Pendanaan

Menurut penelitian Financial Action Task Force tahun 2015, lima sumber pendapatan utama NIIS adalah sebagai berikut (menurut nilai):

Rampasan Dari Penduduk. Rampasan dari pendudukan wilayah (termasuk penguasaan bank, sumber minyak dan gas, pajak, pemerasan, dan perampokan aset-aset ekonomis)tebusan penculikansumbangan dari Arab Saudi dan negara-negara Teluk, biasanya beralasan “sumbangan kemanusiaan”bantuan material oleh pejuang asingpenggalangan dana lewat jaringan komunikasi modern

Tahun 2014, RAND Corporation menganalisis sumber pendanaan NIIS dari dokumen yang diperoleh antara tahun 2005 dan 2010 dan menemukan bahwa sumbangan luar negeri hanya mencakup 5% dari total anggaran operasional kelompok ini. Sel-sel di Irak diwajibkan mengirim 20% pendapatannya yang diperoleh dari penculikan, pemerasan, dan aktivitas lain ke induknya. Induk organisasi tersebut akan menyalurkannya ke sel-sel provinsi atau lokal yang membutuhkan dana untuk melancarkan serangan.

Pada pertengahan 2014, intelijen Irak mendapatkan informasi bahwa NIIS memiliki aset senilai US$2 miliar dan menjadikannya kelompok jihadis terkaya di dunia. Sekitar tiga per empat jumlah tersebut dirampok dari bank sentral Mosul dan bank-bank komersial di Mosul. Akan tetapi, sebagian pihak meragukan apakah NIIS mampu merampok uang sedemikian besarnya dari bank sentral dan apakah perampokan bank benar-benar terjadi. Sejak 2012, NIIS merilis laporan tahunan layaknya laporan operasional perusahaan untuk menarik calon donatur.

Pendapatan minyak

Seorang pejabat Kementerian Keuangan Amerika Serikat memperkirakan bahwa NIIS memiliki pendapatan US$1 juta per hari lewat aktivitas ekspor minyak. Pada tahun 2014, analis energi asal Dubai memperkirakan bahwa pendapatan minyak gabungan dari wilayah Irak dan Suriah yang diduduki NIIS mencapai US$3 juta per hari. Tahun 2014, sebagian besar pendanaan kelompok ini berasal dari produksi dan penjualan energi; NIIS menguasai kurang lebih 300 sumur minyak di Irak. Pada puncaknya, NIIS mengoperasikan 350 sumur minyak di Irak, namun kehilangan 45 sumur akibat serangan udara pasukan asing. NIIS telah menguasai 60% kapasitas produksi minyak Suriah. Sekitar seperlima kapasitas totalnya dioperasikan oleh NIIS. NIIS mendapatkan US$2,5 juta per hari dengan menjual 50.000–60.000 barel minyak per hari. Penjualan luar negeri bergantung pada pasar gelap ekspor ke Turki. Banyak penyelundup dan penjaga perbatasan Turki korup yang membantu Saddam Hussein menghindari sanksi justru membantu NIIS mengekspor minyak dan mengimpor uang tunai. Pendapatan energi NIIS juga mencakup penjualan listrik dari pembangkit listrik di Suriah utara; sebagian listrik tersebut kabarnya dijual kembali ke pemerintah Suriah.

Penjualan barang antik

Penjualan artefak diduga merupakan sumber pendanaan NIIS terbesar kedua. Lebih dari sepertiga situs sejarah Irak dikuasai oleh NIIS. NIIS menjarah istana raja Asiria Ashurnasirpal II di Kalhu (Nimrud) yang sudah berdiri sejak abad ke-9 SM. Tablet, manuskrip, dan kuneiform dijual senilai ratusan juta dolar. Artefak jarahan diselundupkan ke Turki dan Yordania. Abdulamir al-Hamdani, arkeolog SUNY Stony Brook, mengatakan bahwa NIIS “menjarah akar terdasar umat manusia, artefak dari peradaban tertua di dunia”.

Pajak dan pemerasan

NIIS juga mengumpulkan kekayaannya lewat pajak dan pemerasan. Terkait pajak, umat Kristen dan orang asing wajib membayar pajak jizyah. Selain itu, kelompok ini rutin melakukan pemerasan dengan meminta uang dari sopir truk dan mengancam mengebom toko. Merampok bank dan toko emas merupakan salah satu sumber pendapatan NIIS. Pemerintah Irak secara tidak langsung mendanai NIIS karena pemerintah masih terus membayar gaji ribuan karyawan pemerintah yang bekerja di wilayah NIIS; NIIS kemudian memangkas separuh gaji karyawan pemerintah Irak. Polisi, guru, dan tentara yang sebelumnya bekerja untuk rezim sekuler Irak masih diizinkan bekerja apabila mereka membayar iuran kartu pertobatan yang harus diperpanjang setiap tahunnya.

image

Perdagangan narkotika

Menurut Victor Ivanov, kepala badan narkotika nasional Rusia, NIIS mengumpulkan kekayaan dengan menyelundupkan heroin Afghanistan melintasi wilayahnya seperti yang dilakukan Boko Haram. Pendapatan dari aktivitas ini bisa mencapai $1 miliar per tahunnya.

Pertanian

Lahan pertanian antara sungai Tigris dan Eufrat menghasilkan separuh produksi gandum tahunan Suriah dan sepertiga produksi gandum tahunan Irak. NIIS mampu memproduksi hasil tani senilai US$200 juta per tahun bila lahannya dikelola dengan baik.

Sumbangan Arab Saudi dan negara-negara TelukSunting

Pada Juni 2014, surat kabar The Daily Beastmenuduh Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar mendanai NIIS. Iran dan Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki juga menuduh Arab Saudi dan Qatar mendanai kelompok tersebut. Menjelang konferensi pro-Irak anti-NIIS yang diselenggarakan di Paris tanggal 15 September 2014, menteri luar negeri Perancis mengakui bahwa sejumlah negara yang hadir (Saudi, Qatar, dan Kuwait) “sangat mungkin” mendanai operasi NIIS. Menurut The Atlantic, NIIS bisa jadi merupakan badian dari strategi operasi rahasia Bandar bin Sultan di Suriah.

Beberapa organisasi amal tak terdaftar menjadi perantara dana ke NIIS dengan alasan “sumbangan kemanusiaan”. Arab Saudi menerapkan larangan menyeluruh untuk sumbangan tak berizin ke Suriah demi menghentikan arus dana tersebut. Namun demikian, sejumlah sumber menegaskan tidak ada bukti bahwa NIIS didukung langsung oleh negara-negara Teluk.

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s