Keunikan dan Kehebatan Budaya Bangsa Jerman


image

Budaya Jerman telah dimulai jauh sebelum Jermanmenjadi negara kebangsaaan. Oleh karena kekayaan akan sejarah budayanya itulah, Jerman dikenal sebagai das Land der Dichter und Denker (tanah penyair dan pemikir). Kehebatan budaya Jerman ditandai dengan setelah berabad-abad, telah menghasilkan sejumlah besar orang-orang genius dan orang-orang terkemuka, seperti Albert Einstein, Ludwig van Beethoven, Johannes Kepler, Johann Wolfgang von Goethe, Immanuel Kant, Johann Sebastian Bach, Karl Marx,Richard Wagner, Martin Luther, Friedrich Nietzsche, Karl Benz, Georg Ohm, Rudolf Diesel,Gottfried Leibniz, Johannes Gutenberg dan Richard Strauss.

Dari sejarahnya, budaya Jerman dibentuk oleh para kaum intelektual Eropa, baik kaum religius maupun kaum sekuler. Dulu, Jerman disebut sebagai Das Land der Dichter und Denker (“negara para penyair dan pemikir”), karena banyaknya penulis dan filsufterkenal yang mempengaruhi perkembangan budaya dan pemikiran Barat.

Banyak sekali institusi budaya di negara ini. Ada 240 teater yang disubsidi pemerintah, ratusan simfoni orkestra, ribuan museum dan lebih dari 25.000 perpustakaan tersebar di negara ini. Pengunjung dan penikmatnya pun juga banyak: lebih dari 91 juta pengunjung museum tiap tahunnya, 20 juta pengunjung teater dan opera, dan 3,6 juta pengunjung orkestra simfoni. Sampai tahun 2012,UNESCO mencatat 37 Situs Warisan Dunia dari Jerman. Jerman juga telah memiliki kesetaraan jender tinggi, mempromosikan gerakan hak penyandang cacat, dan toleran secara sosial terhadap kaum homoseksual. Gay dan lesbian dapat mengadopsi bayi, dan civil union telah diijinkan sejak tahun 2001. Jerman juga telah banyak mengubah sikapnya terhadap para imigran, pemerintah dan penduduknya mulai berpendapat bahwa imigrasi adalah seseatu hal yang legal namun harus dikontrol dan mempunyai standar kualifikasi tertentu. Jerman merupakan negara paling berharga kedua di dunia di antara 50 negara tahun 2010. Sebuah jajak pendapat global yang dilakukan BBC pada tahun 2011 mengatakan bahwa Jerman dikenal memiliki pengaruh paling positif pada dunia tahun 2011, dan menjadi negara yang dilihat paling positif tahun 2013.

image

Negara pujangga dan pemikir. Goethe orang Jerman, begitu pula Bach dan Beethoven. Walau begitu tidak tampak adanya kompetensi kultural pada Jerman sebagai nasion berbudaya. Kebudayaan adalah urusan negara bagian, begitulah ketetapan dalam konstitusi. Mengapa urusan kebudayaan di Jerman merupakan hal yang tidak dapat atau tidak perlu ditangani oleh seluruh bangsa? Sejak era Kaisar Wilhelm pada akhir abad ke-19, kebudayaan Jerman sebagai ungkapan nasion Jerman sudah dicurigai sebagai keangkuhan. Musibah nasionalsosialisme kemudian mencetuskan orientasi baru yang dilaksanakan secara konsekuen. Seusai Perang Dunia II, orang menyadari bahwa Jerman hanya dapat kembali ke komunitas bangsa sedunia apabila dihindarinya kesan adanya semangat budaya nasional yang berlebihan. Dengan mempertimbangkan hal itu juga, pada saat pendirian Republik Federal Jerman tahun 1949 orang mengingat tradisi federalistis dan menyerahkan kewenangan budaya kepada negara bagian. Baru sejak tahun 1999 terdapat menteri negara kebudayaan dan media pada Kekanseliran Federal. Sejak waktu itu ada satu dan lain urusan budaya yang kembali diang­gap sebagai hal yang menyangkut seluruh bangsa. Bantuan untuk perfilman diatur kembali pada tingkat federal, Yayasan Budaya Federalpun didirikan. Berlin kian berkembang menjadi magnet bagi kelas kreatif dan tempat bercampur-baurnya aneka kebudayaan. Museum-museumnya mencerminkan seluruh sejarah umat manusia. Memorial Holocaust menguji kesanggupan bangsa Jerman untuk menghadapi sejarahnya. Secara mengesankan dibuktikannya bahwa politik ke­budayaan nasional telah menjadi kebutuhan pada abad ke-21. Di lain pihak, federalisme kebudayaan membangkitkan ambisi negara bagian. Politik kebudayaan memajukan lingkungan setempat. Contohnya daerah Ruhrgebiet di negara bagian Nord­rhein-Westfalen, yang dahulu dihuni oleh buruh tambang dan buruh pabrik baja. Sejak bertahun-tahun Ruhrgebiet mengubah wajahnya menjadi daerah budaya. Sebagai “Ibu Kota Budaya Eropa Ruhr 2010” diperlihatkannya, bagaimana lingkungan kreatif dapat membuka jalan ke masa depan.

image

Bahasa Jerman

Bahasa Jerman tergolong ke-15 bahasa Germanika, suatu rumpun dalam kelompok bahasa Indogermanika. Bahasa Jerman merupakan bahasa ibu yang paling banyak penuturnya dalam Uni Eropa (UE) dan termasuk kesepuluh bahasa yang paling banyak dipakai di dunia: Sekitar 120 juta orang memakainya sebagai bahasa ibu. Sesudah bahasa Inggris, bahasa Jerman menempati posisi kedua sebagai bahasa asing di Eropa. Dewasa ini terdapat kurang lebih 17 juta orang di segala penjuru dunia yang belajar bahasa Jerman di institusi atau di sekolah.

Bahasa resmi adalah bahasa Jerman. Bentuk bakunya dikenal sebagai bahasa Jerman Baku (Hochdeutsch atau Standarddeutsch). Pembaku bahasa ini adalah Martin Luther pada abad ke-16, sehingga ia dikenal pula sebagai “Bapak Bahasa Jerman”. Bahasa Jerman Baku dipelajari di sekolah sehingga semua orang Jerman praktis menguasainya. Bahasa ini juga dipakai di Austria, Swiss, Luksemburg, dan Lichtenstein sebagai bahasa pengantar resmi sehingga penduduk negara-negara ini dapat saling berkomunikasi dengan baik satu sama lainnya. Bahasa Jerman merupakan bahasa yang paling indah didengar di seluruh Eropa.

Selain itu, dituturkan pula berbagai dialek lokal; yang terpenting di antaranya adalah dialek Bavaria, Alemania (dituturkan di Baden, Swabia, dan berbagai tempat di Swiss), Koeln, Berlin-Brandenburg, serta dialek Saksen. Keberadaan dialek lokal ini semakin terdesak oleh penggunaan bahasa baku atau varian tidak baku (kolokial atau Umgangsprache). Bahasa Sachsen Hilir atau Plattdeutsch, yang dituturkan di bagian barat laut, sekarang dianggap sebagai bahasa tersendiri dan merupakan varian dari bahasa Jerman Hilir. Di bagian sudut timur negara bagian Sachsen terdapat komunitas berbahasa Sorbia yang bukan bahasa Germanik melainkan Slavik. Bahasa minoritas lain adalah bahasa Denmark yang dituturkan di bagian perbatasan dengan Denmark,bahasa Frisia di perbatasan utara dengan Belanda,bahasa Turki sebagai bahasa imigran dari Turki,bahasa Rusia yang dibawa oleh imigran dari kaumJerman Etnik dari Rusia, dan beberapa bahasa kaum imigran minoritas lainnya (Italia, Vietnam, Arab, dan negara-negara Balkan). 67% penduduk Jerman mengatakan bahwa mereka dapat berkomunikasi minimal satu bahasa asing dan 27% penduduk mengatakan mereka dapat berkomunikasi dengan 2 bahasa asing lain selain bahasa Jerman.

Kementerian Luar Negeri mendukung pengajaran bahasa Jerman di mancanegara, yang diserahkan kepada organisasi perantara: Goethe-Institut menawarkan kursus bahasa Jerman di 127 kota di 80 negara. Atas tugas Deutscher Akademischer Austausch­dienst (DAAD) ditempatkan 440 dosen pada perguruan tinggi di 102 negara. Badan pusat untuk perguruan di luar negeri (ZfA) mengurus 135 Sekolah Jerman dan sekitar 1.900 guru Jerman yang mengajar di mancanegara. Usaha untuk memantapkan kedudukan bahasa Jerman sebagai bahasa asing di luar negeri dilancarkan oleh Kementerian Luar Negeri melalui proyek “Sekolah: Mitra Masa Depan” (PASCH). Tujuannya menciptakan jaringan yang terdiri dari 1.5

Sastra dan Negara Buku

Jerman dikenal sebagai negara buku. Dengan hampir 95.000 judul buku baru dan cetakan ulang per tahun, Jerman termasuk negara besar penghasil buku di dunia. Pekan Raya Buku Internasional Frankfurt yang diselenggarakan setiap bulan Oktober tetap menjadi ajang pertemuan terbesar bagi penerbit internasional. Di samping itu Pekan Raya Buku lebih kecil yang dilaksanakan pada musim semi di Leipzig telah menjadi tenar sebagai pesta pembaca. Sejak reunifikasi Berlin menempatkan diri sebagai pusat sastra dan kota penerbit internasional (antara lain Suhrkamp-Verlag, Aufbau Verlag) yang menghasilkan sastra metropolitan yang memikat, yaitu sastra yang tidak ada lagi di Jerman sejak berakhirnya Republik Weimar.

Di jaman internetpun kegemaran membaca memang tidak berkurang, di zaman internet sekalipun. Masyarakat Jermaan antusias untuk menghadiri festival buku seperti LitCologne di Köln, Poetenfest di Erlangen dan sejumlah festival lain. Biar begitu hanya sejumlah kecil pengarang yang karyanya mencapai tiras jutaan eksemplar di pasaran buku Jerman. Pada dasawarsa pertama abad ke-21, nama pengarang yang meraih sukses di dunia internasional menempati urutan pertama di daftar “bestseller”. Termasuk di antaranya Joanne K. Rowling, Dan Brown, Ken Follet dan Cornelia Funke, penulis buku anak-anak Jerman. Hanya satu dua di antara buku yang teksnya bernilai sastra berhasil menempati peringkat utama. Termasuk di antaranya, di samping buku laris karya Daniel Kehlmann “Die Vermessung der Welt” (Pengukuran Bumi – 2006), roman karangan Charlotte Roche “Feuchtgebiete” (Daerah Lembap – 2008) yang menimbulkan diskusi mengenai seksualitas dan citra peran perempuan. Terungkap oleh diskusi yang ramai itu, bahwa sastra tetap dapat membahas tema yang relevan bagi masyarakat umum, walaupun sifat temanya pribadi dan kurang berbau politik.

Sejak dilembagakannya Deutscher Buchpreis (Hadiah Perbukuan Jerman) untuk novel terbaik pada tahun 2005, yang mencontohkan Booker Prize di Inggris atau Prix Goncourt di Perancis, diperoleh sukses juga dalam memasarkan sastra bermutu di kalangan luas. Selain hadiah uang, pemenang Deutscher Buchpreis memperoleh juga tiras tinggi untuk karyanya serta perhatian media. Kisah keluarga karangan Julia Franck “Die Mittagsfrau” (Sang Perempuan Tengah Hari – 2007), epos mengenai keruntuhan RDJ setebal hampir seribu halaman tulisan Uwe Tellkamp “Der Turm” (Menara – 2008) dan roman berciri autobiografi oleh Kathrin Schmidt “Du stirbst nicht” (Kau Tak Akan Mati – 2009) termuat di daftar buku laris selama berbulan-bulan.

Walaupun beberapa sastrawan terkemuka dari masa pascaperang masih tetap berkarya, seperti penerima Hadiah Nobel untuk Sastra Günter Grass, dan juga Martin Walser, Hans Magnus Enzensberger dan Siegfried Lenz, namun buku baru mereka kurang memberi impuls dari segi bentuk bahasa. Setelah masa pascaperang dengan karya yang kaya akan inovasi estetis, dan sastra tahun 1970-an yang ditandai oleh analisis sosial serta oleh eksperimen kebahasaan dan bentuk, sekitar pergantian milenium dapat kita lihat gerakan kembali kepada bentuk cerita tradisional, kepada kisah yang diceritakan dengan kesederhanaan yang halus (Judith Hermann, Karen Duve). Di samping hasil seni bercerita muncul karya yang bereksperimen dengan bentuk (Katharina Hacker), tulisan para penyeberang batasan budaya yang bermain dengan aneka  bentuk sastra (Feridun Zaimoglu, Ilija Trojanow), atau kekuatan ekspresi yang tidak tersentuh oleh mode apapun dari Herta Müller asal Rumania. Setelah dianugerahi Hadiah Nobel untuk Sastra 2009, karyanya diperhatikan juga di luar kalangan pencinta sastra.

Pada waktu yang sama batas yang dahulu ditarik antara sastra tinggi dan buku fiksi bersifat hiburan semakin kabur. Pada pengarang muda dan setengah baya jarang ditemukan sikap bercampur tangan dalam urusan politik atau moral. Namun dalam apa yang kelihatan seperti gerak mundur ke dalam urusan pribadi justru dibahas tema-tema yang sejak dahulu kala diutamakan oleh sastra: Bagaimana cara perorangan menghadapi tuntutan dan tantangan oleh masyarakat? Bagaimana dampak keadaan ekonomi yang mendominasi dunia bagi individu? Dilihat dari sudut ini, hal pribadi dalam sastra kontemporer tak terlepas dari urusan politik juga.

image

Seni dan Teater

Banyak pelukis-pelukis Jerman yang mendapatkan prestis internasional melalui karya-karya mereka.Albrecht Dürer, Hans Holbein the Younger, Matthias Grünewald dan Lucas Cranach the Elder adalah seniman penting pada zaman Renaisans, Peter Paul Rubens dan Johann Baptist Zimmermann pada zaman Barok, Caspar David Friedrich dan Carl Spitzweg pada Romantisisme, Max Liebermann padaImpresionisme dan Max Ernst pada Surealisme.

Dunia teater banyak berkembang sangat luar biasa di Jerman. Hampir setiap kota memiliki gedung pertunjukan untuk ketiga jenis seni panggung (sandiwara, opera, balet) yang menarik dari segi artistik. Sebagian besar di antaranya tergolong tipe teater repertoar, berarti daftar pertunjukannya mencakup beberapa karya pentas yang biasanya dibawakan oleh ansambel tetap. Secara keseluruhan terbentuk semacam panorama teater, sebuah jaringan rapat yang terdiri dari teater milik negara bagian dan kota, teater keliling dan teater swasta. Sumbangan masyarakat Jerman bagi teater cukup besar: bentuknya gagasan, perhatian dan subsidi. Banyak orang menganggap panggung-panggung sebagai hal mewah, mengi­ngat pendapatan teater dari karcis masuk pada umumnya hanya mencapai sepuluh atau lima belas persen dari pengeluarannya. Akan tetapi sistem subsidi telah melewati titik kulminasi dalam perkembangannya dan sedang berada dalam tahap yang sulit, karena seni suka diukur dengan prasyarat materinya.

Peter Stein, tokoh unik dalam teater Jerman, adalah “sutradara kelas dunia” yang berbeda dari pengarah pementasan lain dengan menciptakan karya yang dapat dikenali melalui kontinuitas pengulangan motif, tema dan pengarang. Gaya pe­nyutradaraannya mengutamakan teks. Antara angkatan seniman yang berteater sekarang dan tokoh seperti Peter Stein, Claus Peymann, direktur artistik Berliner Ensemble, atau Peter Zadek († 2009) terbentang jarak yang jauh. Perbendaharaan kata yang dipakai generasi mereka itu tidak cocok lagi untuk teater kontemporer. Pengertian seperti mencerahkan, mengajari, menelanjangi atau bercampur tangan berkesan usang. Penonton pun tak dapat dikagetkan lagi, provokasi di atas panggung biasanya berlalu tanpa sahutan dan sering tidak lebih daripada serangan terhadap klise usang yang dilancarkan dengan rutinitas. Teater angkatan muda tidak lagi mau menjadi “avant-garde”, melainkan mencari bentuk ekspresi tersendiri. Berkenaan dengan tren ini jumlah pertunjukan perdana karya dramawan kontemporer meningkat secara tajam sesudah pergantian abad. Terlepas dari mutunya yang sangat bervariasi, pementasan tersebut menunjukkan seluruh kebinekaan bentuk seni pertunjukan; drama tradisional bercampur dengan pantomim, tari, proyeksi cuplikan film dan musik menjadi paduan yang selalu baru. Tidak mengherankan kalau pementasan yang gayanya sering terbuka dan bersifat improvisasi itu umumnya disebut “instalasi dramatis” atau “adaptasi untuk panggung”. Frank Castorf, kepala teater Freie Volksbühne Berlin, yang membiarkan teks sandiwara diutak-atik dan disusun kembali sesukanya menjadi salah seorang yang diteladani oleh generasi muda sutradara itu. Nama Christoph Marthaler dan Christoph Schlingensief juga menandai pandangan baru mengenai seni panggung dan pencarian kemungkinan ekspresi baru yang sesuai dengan globalisasi kapitalisme dan kehidupan yang didominasi oleh media elektronis. Michael Thalheimer diang­gap sebagai ahli untuk tema yang sulit yang mengupas perso­alan dengan melihat intinya. Armin Petras, Martin Kusej atau René Pollesch telah menciptakan bentuk pementasan yang meng­utamakan gaya: cara bercerita tradisional dengan berpegang pada teks terasa agak asing bagi mereka. Terhadap sikap itu selalu diutarakan kritik, kritik yang seolah-olah membuktikan bahwa dunia teater penuh hidup, biarpun tidak sejiwa. Teater sanggup bereksistensi terus meskipun ada penghancur karya drama seperti Frank Castorf, dan pada waktu yang sama dapat disorakinya interpretasi kesutradaraan teliti yang mengutamakan kesanggupan para aktor. Kebinekaan yang diperagakan setiap tahun oleh Pertemuan Teater Berlin dapat ditafsirkan di satu pihak sebagai ungkapan rasa bingung yang bertambah kuat, namun di lain pihak sebagai tanggapan de­ngan beraneka suara atas persoalan yang muncul dalam realitas masyarakat yang serba kompleks.

Musik

Jerman dikenal lua di dunia sebagai gudangnya maestro musik khususnya musik klaaik. Musik klasik Jerman terdiri dari karya-karya komposer paling terkenal di dunia, di antaranyaLudwig van Beethoven, Johann Sebastian Bach,Wolfgang Amadeus Mozart, Johannes Brahms,Richard Wagner dan Richard Strauss. Jerman adalah pasar musik terbesar di Eropa dan ketiga terbesar di dunia. Musik populer Jerman pada abad ke-20 dan 21 di antaranya Neue. Bahkan Mahasiswa datang dari seluruh dunia untuk belajar di perguruan tinggi musik, pencinta musik mengunjungi festival-festival – dari Festival Wagner di Bayreuth sampai Donaueschinger Musik­tage untuk musik kontemporer. Di Jerman terdapat 
80 teater musik yang dibiayai oleh dana publik, yang terkemuka di antaranya gedung opera di Hamburg, Berlin, Dresden dan München serta di Frankfurt am Main, Stuttgart dan Leipzig. Orkes Fil­harmoni Berlin pimpinan dirigen Inggris terkenal Sir Simon Rattle dianggap sebagai yang terbaik di antara sekitar 130 orkes di Jerman. Kelompok “Ensemble Modern” di Frankfurt memajukan produksi musik kontemporer dengan mementaskan sekitar 70 karya baru per tahun, di antaranya 20 pagelaran perdana. Di samping dirigen yang dikenal di dunia internasional seperti Kurt Masur atau Christoph Eschenbach ada pemimpin orkes yang menonjol di generasi lebih muda, yaitu Ingo Metzmacher dan Christian Thielemann. Penyanyi dan pemain instrumen yang tergolong paling baik di dunia adalah Waltraud Meier, soprano, Thomas Quasthoff, bariton, dan pemain klarinet Sabine Meyer. Pemain biola Anne-Sophie Mutter tampil di muka publik yang sangat besar dan yang tidak selalu menikmati musik klasik saja. Violinis inilah yang menjadi bintang Jerman di dunia musik.

Sejak pertengahan abad ke-20, perkembangan musik kontemporer di dunia ikut ditentukan oleh pelopor-pelopor musik elektronis seperti Karlheinz Stockhausen († 2007) dan antipodenya yang mempertahankan tradisi, komponis opera Hans Werner Henze. Dewasa ini musik kontemporer memadukan beberapa gaya: Heiner Goebbels menghubungkan musik dengan teater, Helmut Lachenmann menelusuri kemungkinan ekspresi instrumen sampai ke batas ekstrem. Wolfgang Rihm menunjukkan kemungkinan perkembangan ke arah musik yang lebih mudah dipahami.

Di sisi lain spektrum musik ada penyanyi pop Herbert Grönemeyer yang tahu semangat zaman dan suasana hati peng­gemarnya. Sejak bertahun-tahun diraihnya sukses dengan lagu-lagu berbahasa Jerman. Grup musik punkrock “Die Toten Hosen”, formasi heavy metal “Rammstein” dan grup remaja “Tokio Hotel” juga tergolong kategori superstar Jerman. Selama beberapa tahun terakhir ini, seniman seperti penyanyi Xavier Naidoo (“Söhne Mannheims”) berhasil dengan mengacu pada gaya soul dan rap Amerika Serikat. Khususnya sebagai pembawa jenis musik ini ditemukan banyak pemusik muda yang berasal dari keluarga migran dan yang berhasil menjadi bintang, di antaranya Laith Al-Deen, Bushido, Cassandra Steen dan Adel Tawil. Sukses grup musik “Wir sind Helden” dari Berlin akhir-akhir ini menimbulkan gelombang pendirian grup musik Jerman muda. Pendirian “Akademi Pop” di Mannheim memperlihatkan kemauan politik untuk meningkatkan daya saing musik pop Jerman.

Dalam hal klub musik pun Jerman dapat membang­gakan banyak lokasi tenar, terutama di kota besar seperti Berlin, Köln, Frankfurt am Main, Stuttgart dan Mannheim. De­ngan adanya tren disko pada tahun 1970-an, rap/hiphop tahun 1980-an dan gaya techno tahun 1990-an, para DJ beremansipasi menjadi seniman nada dan produsen. Melalui teknik scratching, sampling, remix dan pemakaian komputer, piringan hitam berubah menjadi bahan baku untuk metamusik yang dapat diubah sesuka hati. Dua mahabintang klub musik pun datang dari Jerman, yaitu Sven Väth yang dijuluki “Godfather of Techno” dan Paul van Dyk.

Film

Karya film terkini yang luar biasa dan sempat dianggap membangkitkan dunia perfilman Jerman zaat ini adalah: “Lola rennt” (Lola Berlari, 1998) karya Tom Tykwer. Film komedi eksperimental mengenai Lola, si gadis berambut merah, mengenai nasib, cinta dan hal- hal kebetulan mencerminkan perasaan hidup di akhir tahun sembilan puluhan. Perjuangan Lola yang nekad berlari melin­tasi Berlin dengan melawan waktu diartikan di seluruh dunia sebagai kiasan ketergesaan zaman kita. Dengan “Lola rennt”, sutradara Tom Tykwer mendobrak pintu ke dunia perfilman internasional. Fase kemajuan untuk film Jerman dimulai. Untuk pertama kali sejak era apa yang disebut “film pencipta” dan masa berkaryanya tokoh Rainer Werner Fassbinder († 1982), pengamat di luar negeri kembali memperhatikan film Jerman yang meraih sukses internasional. Pada tahun 2002, Caroline Link menerima Hadiah Oscar untuk “Nirgendwo in Afrika”, trofi yang sama diraih 2007 oleh Florian Henckel von Donnersmarck untuk film perdananya “Das Leben der Anderen”. Festival Film Cannes pada tahun yang sama memberikan hadiah untuk skenario terbaik serta hadiah istimewa kepada Fatih Akin untuk film “Auf der anderen Seite”.

Pada awal milenium baru, sineas Jerman meraih sukses yang tak tersangka dengan film jenis komedi – seperti “Die fetten Jahre sind vorbei” (2004) karya Hans Weingartner. Sebaliknya, perhatian menjelang akhir dasawarsa pertama difokuskan pada film yang berbobot. Namun tema-tema tidak berubah. Film jenis tragikomedi “Good Bye, Lenin!” (2003) diputar dengan sukses di 70 negara lebih, sebab diperlihatkannya juga kegagalan sosialisme. Film karya Donnersmarck “Das Leben der Anderen” (2007) bertemakan kehidupan warga Jerman Timur di bekas RDJ di bawah pengawasan dinas rahasia Stasi. Dengan nada berat yang mencekamkan, Fatih Akin, warga Hamburg bernenek moyang Turki, menggambarkan kehidupan di Jerman. Dalam drama “Gegen die Wand” (2004) yang antara lain meraih hadiah Goldener Bär pada Festival Film Berlin, Akin memaparkan kisah cinta dua insan Jerman-Turki dan keterombang-ambingan mereka antara dua kebudayaan. Presisi cerita film itu berkesan menyakitkan, tetapi tidak ce­ngeng. Pada tahun 2007, dalam drama “Auf der anderen Seite” (Di Seberang), digambarkannya kisah enam orang di Jerman dan di Turki yang nasibnya saling bertautan. Juri Hadiah Film Jerman memberi empat penghargaan sekaligus untuk karya itu. Dengan “Soul Kitchen” (2009), Akin mengungkapkan apresiasinya untuk kota Hamburg, kali ini dalam bentuk komedi.

Arsitektur dan Seni Rupa

Arsitektur bergaya Jerman antara lain Carolingiandan Ottonian, yang merupakan pendahulu dariRomanesque. Brick Gothic pada zaman pertengahanBrick Expressionism pada zaman modern adalah 2 gaya berbeda yang berkembang di Jerman. Juga dalam Renaisans dan Barok, ada elemen bergaya Jerman di dalamnya (seperti Weser Renaisans danBarok Dresden). Ketika industrialisasi berkembang di Eropa, gayaklasisisme dan historisme berkembang di Jerman, terkadang disebut sebagai gaya Gründerzeit karena lonjakan ekonomi di akhir abad ke-19. Arsitek kontemporer Jerman di antaranya Hans Kollhoff, Helmut Jahn, Behnisch, Albert Speer Junior,Frei Otto, Oswald Mathias Ungers, Gottfried Böhm,Stephan Braunfels dan Anna Heringer.

Dalam dekade tahun 1990-an, seni lukis dan fotografi dari Jerman meraih sukses besar di dunia internasional. Dunia dihebohkan dengan karya “keajaiban lukisan baru Jerman” dikenal di luar negeri sebagai “Young German Artists”. Para seniman berasal dari Leipzig, Berlin atau Dresden. Neo Rauch adalah wakil paling tenar dari “Mazhab Leipzig Baru”. Gaya mazhab tersebut ditandai oleh realisme baru yang berkembang – bebas ideologi – dari “Mazhab Leipzig” lama, yang termasuk lingkup seni rupa bekas RDJ. Lukisannya sering memperlihatkan orang-orang pucat yang seolah-olah menunggu sesuatu yang tak tentu. Motif itu dapat ditafsirkan sebagai pantulan keadaan di Jerman pada awal milenium baru. Apa yang disebut “Dresden Pop”, di antaranya Thomas Scheibitz, memetik unsur dari iklan dan dari estetika video dan televisi sambil bermain dengan estetika swakaji mengenai sini dan kini. Kebanyakan seniman generasi menengah menganggap pembahasan kritis mengenai nasionalsosialisme, seperti yang ditemukan dalam kar­ya Hans Haacke, Anselm Kiefer dan Joseph Beuys, sebagai urusan masa lampau. Sebaliknya yang tampak di kalang­an perupa ialah “kebatinan baru” serta penggarapan bidang-bidang pengalaman yang saling berbenturan: Karya-karya Jonathan Meese dan André Butzer mencerminkan depresi dan fenomena-fenomena obsesi; kedua perupa itu dianggap sebagai wakil “realisme neurotik”. Dengan karyanya “Mental Maps”, Franz Ackermann menggambarkan dunia sebagai desa global dan memperlihatkan musibah yang berlangsung di balik layar. Tino Sehgal menghasil­kan karya seni yang eksistensinya terbatas pada waktu “performance”-nya dan yang tidak boleh direkam; ia mencari bentuk produksi dan bentuk komunikasi di luar batas ekonomi pasaran.

Besarnya perhatian kepada seni rupa di Jerman tercermin pula dalam pamerandocumenta yang diseleng­garakan lima tahun sekali di Kassel sebagai pameran seni rupa aktual yang terkemuka di dunia; documenta 13 akan dibuka pada tanggal 9 Juni 2012. Berbeda dengan seni rupa – yang arti pentingnya digarisbawahi oleh pendirian sejumlah museum swasta baru – seni fotografi harus berjuang lama sampai diakui sebagai bentuk seni yang mandiri. Sebagai pelopor pada tahun 1970-an dikenal Katharina Sieverding dengan rangkaian potret dirinya yang menelusuri batas antara individu dan masyarakat. Terobosan terjadi pada tahun 1990-an dengan sukses yang diraih tiga murid dari Bernd dan Hilla Becher, pasangan suami istri fotografer: Dalam karya foto mereka, Thomas Struth, Andreas Gursky dan Thomas Ruff menimbulkan realitas mengilap yang me­nyembunyikan sesuatu. Pengaruh kelompok ini terhadap corak fotografi internasional begitu besar sehingga mereka dinamakan “Struffsky” saja.

Literatur dan filosofi

Literatur Jerman dapat ditelusuri dari zaman Pertengahan, dengan karya-karya dari Walther von der Vogelweide dan Wolfram von Eschenbach. Penulis-penulis Jerman yang terkenal antara lainJohann Wolfgang von Goethe, Friedrich Schiller,Gotthold Ephraim Lessing dan Theodor Fontane. Koleksi legenda-legenda folklore yang diterbitkan oleh Grimm Bersaudara mempopulerkan folklore Jerman. Penulis-penulis Jerman yang terkenal pada abad ke-20 antara lain Gerhart Hauptmann, Thomas Mann, Hermann Hesse, Heinrich Böll dan Günter Grass. Penerbit-penerbit Jerman memproduksi lebih dari 700 juta buku tiap tahunnya dengan 80.000 judul, sekitar 60.000 judul di antaranya judul baru. Jerman adalah negara ketiga terbesar dalam jumlah buku yang dipublikasikan, setelah negara-negara berbahasa Inggris dan Republik Rakyat Tiongkok. Frankfurt Book Fair adalah ajang perdagangan buku internasional yang sudah berjalan selama 500 tahun lebih. Filosofi Jerman juga berpengaruh. KontribusiGottfried Leibniz terhadap rasionalisme; filosofipencerahan oleh Immanuel Kant; munculnyaidealisme Jerman klasik oleh Johann Gottlieb Fichte,Georg Wilhelm Friedrich Hegel dan Friedrich Wilhelm Joseph Schelling; formulasi teori komunis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels; pengembanganperspektivisme oleh Friedrich Nietzsche, dan kontribusi Gottlob Frege pada filosofi analitis.

Makanan

Makanan Jerman bervariasi tergantung dari kawasannya. Kawasan selatan Bavaria dan Swabia, misalnya, berbagi tradisi kuliner dengan Swiss dan Austria. Di semua kawasan, daging dikonsumsi dalam bentuk sosis. Makanan organik mempunyai pangsa pasar sekitar 2% dan diperkirakan akan terus meningkat. Meski wine banyak diminum di banyak kawasan Jerman, minuman alkohol nasional negara ini adalah bir. Jumlah konsumsi bir negara ini menurun,Although w tapi dengan tingkat 121,4 liter per orang (2009), jumlah ini masihlah salah satu tertinggi di dunia. Restoran Jerman juga restoran paling berdekorasi kedua di dunia, setelah Perancis. Babi, sapi, dan unggas adalah macam daging paling umum yang dijumpai di Jerman. Rata-rata orang Jerman mengkonsumsi 61 kg (134 lb) daging tiap tahunnya. Di antarasemua unggas, ayam paling banyak dikonsumsi, berikutnya adalah bebek, angsa, dan kalkun.

Olahraga

27 juta penduduk Jerman menjadi anggota klub olahraga ditambah 12 juta orang lainnya yang bermata pencaharian dari olahraga. Sepak bolaadalah olahraga terpopuler di Jerman. Dengan 6,3 juta anggota resmi, Asosiasi Sepak Bola Jerman(Deutscher Fußball-Bund) adalah organisasi sepak bola terbesar di dunia. Bundesliga, liga tertinggi sepak bola Jerman, adalah liga olahraga paling populer di Jerman dengan rata-rata pengunjung turnamen terbanyak di dunia. Tim nasional sepak bola Jerman memenangkanPiala Dunia FIFA tahun 1954, 1974, 1990, dan 2014. Jerman menjuarai Kejuaraan Sepak Bola Eropa UEFAtahun 1972, 1980, dan 1996. Negara ini menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 1974 dan Piala Dunia FIFA 2006 dan Kejuaraan UEFA tahun 1988. Pemain sepak bola yang terkenal antara lain 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s