Jokowi Gerah Pada Media, Dulu Disanjung Sekarang Disudutkan


Presiden Joko Widodo mulai bersikap merasa gerah dengan pemberitaan media terhadap pemerintah dan pribadinya. Saat pidato kenegaraan Jokowi menyesalkan sikap insan media di Indonesia yang kerap menyudutkan pemerintah dalam menjalankan kebijakan hanya untuk meningkatkan rating.

image

Hal tersebut tertuang dalam pidato kenegaraan Presiden dalam sidang bersama DPR-DPD RI. Menurut Presiden, seharusnya media memandu masyarakat untuk meneguhkan nilai-nilai keutamaan dalam meningkatkan budaya kerja produktif. Jokowi sudah mulai skeptis dengan media dan merasa terganggu dngan pemberitaan media dengan mengatakan  “Saat ini, ada kecenderungan semua orang bebas dalam berperilaku dan menyuarakan kepentingan masing-masing. Keadaan ini menjadi tidak produktif. Hal ini tentu saja menghambat semangat kerja,”.

Sebagai kepala negara seharusnya sikap gerah Jokowi terhadap media seperti itu sebenarnya tidak harus terjadi. Sebagai kepala negara kritik adalah hal yang biasa. Semakin yinggi pohon maka akan semakin besar angin bertiup. Pepatah itu akan alami oleh pejabat tinggi sekaliber presiden. Di alam demokrasi ini kritik, cemooh bahkan hinaan akan selalu diterima Jokowi. Bukan hanya Jokowi, SBY pun juga mengalami hal yang sama. Bahkan dalam era SBY tekanan dan kritikan media jauh lebih besar. Karena saat itu jampir semha media tidak ada yang berpihak pada SBY.

Saat ini Jokowi masih banyak didukung oleh sebagian media besar nasional. Hanya saja bedanya Jokowi merasa terpukul karena sebagian media yang dulu saat menjelang Pilpres menyanjung dan mengangkat Jokowi secara tidak proposional mulai berbalik arah.

Bila dicermati sebenarnya dulu Jokowi disanjung luar biasa secara tidak wajar dan terkesan pencitraan juga demi kepentingan pemilik media. Buktinya saat figur pentong di belakang media mulai tidak terakomodasi di pemerintahan mulai berbalik arah. Hal ini juga tercermin dari beberapa sosok penting di balik media yang dulu mendukung membabu buta sekarang justru berbalik arah mengkritisi Jokowi.

Dalam hal ini Jokowi harus banyak belajar dari SBY yang sebelumnya terus di Bully media. Bahkan di era SBY di luar negeri banuak dipuji teyapi di negeri sendiri sering dijatuhkan. Tetapi tampaknya SBY tidak terlalu terpancing emosi dan kehehoannya. Kelemahan DBY mungkin  saat itu terlalu cepat dan terlalu sering merespon sokap media. Sehingga sekarang dianggap curhat dan lebay oleh media. Tetapi tampaknya SBY adala seotang demokrat sejati. SBY saat itu tidak pernah menyindir media dan tidak mengatakan secara spontan sikap kegerahan terhadap media

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s