Ekonomi Dunia Kacau. Devaluasi Yuan Picu Perang Mata Uang


China untuk membuat perekonomian global kembali bergejolkj. People’s Bank of China (PoBC) atau Bank Sentral China melemahkan Yuan, para investor pun kemudian heboh. Dampak paling cepat terjadi dalah pasar keuangan serta mata uang dunia, khususnya Asia  menjadi terpuruk bersamaan. Kondisi ini akan memicu Currency War atau perang mata uang oleh berbagai negara yang terdampak oleh devaluasi Yuan.

image

Selasa lalu (11/8/2015), depresiasi yuan terhadap dolar AS mencapai 2%. Dari 6,1162 menjadi 6,2298. Level tersebut adalah posisi terendah dalam tiga tahun terakhir

China punya alasan yang kuat. Ekonomi negeri tirai bambu tersebut memang mengakhir masa pertumbuhan double digit dalam beberapa tahun terakhir. Sekarang cuma stagnan di sekitar 7%. Ekspor yang selalu menjadi pendorong utama ekonominya anjlok cukup parah. Dari rilis terbarunya mencatat sepanjang Juli 2015, penurunan ekspor China mencapai 8,3% atau terendah sejak 4 bulan terakhir. China tetap ingin mendorong pertumbuhannya melalui ekspor. Caranya adalah dengan devaluasi yuan sampai 2%.

Konsumen utama dari barang-barang ekspor China adalah Eropa dan Amerika Serikat (AS). Sementara kedua kawasan tersebut masih dalam status ekonomi yang lemah. Terutama dari sisi konsumsi. Mereka pun juga ingin menggenjot ekspor untuk kembali menguatkan ekonominya. Saat devaluasi menjadi langkah China, barang Eropa dan AS akan mahal dan nggak akan kompetitif melawan China. Artinya ekonominya tetap melambat dan mereka juga nggak akan bisa membeli barang dari China. Jadi efek untuk mendorong pertumbuhan China, nggak akan terjadi juga.

China dengan sengaja mengirimkan deflasi untuk Eropa dan AS. Termasuk ke banyak negara lain. Deflasi adalah semacam kondisi yang memaksa negara tak bisa tumbuh tinggi. Barang impor bisa didapat dengan murah, produsen berhenti berproduksi karena harga barangnya tak kompetitif dan roda ekonomi tak berjalan cepat.

Dalam kondisi seperti ini investor berada dalam ketidakpastian. Alur ekonomi global sebenarnya mulai sedikit kondusif, setelah persoalan Yunani mereda. Bank Sentral AS, yaitu Federal Reserve (The Fed) juga memperkuat rencananya untuk merealisasikan kenaikan suku bunga di akhir 2015. The Fed pasti akan berpikir ulang. Karena kenaikan bunga acuan bakal membuat dolar AS semakin menguat, setelah investor berbondong-bondong ke negeri Paman Sam untuk meletakkan dananya. AS adalah safe haven. Begitu para investor menyebutnya. Kalau The Fed naikkin (suku bunga), itu (dolar) akan lebih kuat lagi dan ekspor mereka akan terpukul. Terpaksa mereka menunda lagi. Ketidakpastian akan makin lama lagi dan menjadi lebih tinggi.

Currenvy War

Currency war atau perang mata uang adalah periode selanjutnya. Bila devaluasi China terus berlanjut, Eropa dan AS juga akan melakukan hal yang sama. Begitu juga dengan Jepang, Korea Selatan, Australia, dan negara lain dengan kepentingan yang sama (semua negara inginnya ekonominya tumbuh tinggi).

Banyak pilihan yang bisa diambil Indonesia. Bisa saja ikut terlibat dalam currency war. Asalkan pemerintah siap menerima caci maki dari publik. Karena pelemahan rupiah (dianggap) adalah sebuah tanda kegagalan dari pemerintah. Termasuk kegagalan Bank Indonesia (BI).

Meskipun panjang lebar pemerintah menjelaskan pelemahan nilai tukar adalah bagian dari upaya mendorong ekspor. Tetap bakal sulit diterima masehingga, solusi untuk ekonomi Indonesia tetap tumbuh adalah, dengan memperkuat belanja dalam negeri. Atau sering disebut dengan kebijakan keep buying strategy.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s