Paska BW Ditangkap, Kabareskrim Budi Waseso Didesak Mundur


Irjen Budi Waseso didesak untuk segera dicopot dari posisinya sebagai Kabareskrim karena dianggap menjadi pemicu konflik KPK vs Polri.  Sosok Budi Waseso memang menjadi sorotan dengan sepak terjang perdananya yang langsung menangkap Komisioner KPK Bambang Widjojanto yang dilakukan secara indispliner tanpa diketahui dan dilaporkan atasan langsung. Namun proses hukum yang terkesan dipaksakan dan membuat situasi semakin panas membuat Budi Waseso mendapat kritik tajam.

Budi Waseso baru lima hari menjabat sebagai Kabareskrim tepatnya sejak tanggal 19 Januari lalu. Dia menggantikan Komjen Suhardi Alius yang digeser ke Lemhanas. Penunjukan Budi mengundang protes masyarakat. Karena itu, muncul dorongan agar Waseso dicopot. Alasannya yakni kegaduhan yang timbul akibat penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, yang dilakukan tanpa koordinasi dengan pimpinan Polri. Perbuatan ini dianggapnya masuk ranah indisipliner. Selain itu, Budi juga dinilai bersikap partisan karena sejak awal menyatakan diri sebagai orang Komjen Pol Budi Gunawan. Apalagi penggantiannya beberapa hari lalu diduga kuat juga tidak dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Presiden Jokowi. Padahal selayaknya Presiden ikut menilai calon Kabareskrim yang punya posisi strategis dalam penegakan hukum.

Yenny Wahid mengatakan Irjen Budi layak dicopot dari jabatannya. Menurut Yenny, jenderal polisi bintang dua itu melakukan skenario politisasi mengatasnamakan Polri. “Kabareskrim yang sekarang juga dicabut dan harus dicopot. Karena disinyalir telah melaksanakan politisasi untuk kepentingan segilintir orang di kepolisian,” kata Yenny di Gedung KPK, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (24/1/2015). Yenny juga menilai kalau Komjen Pol Budi Gunawan yang menjabat sebagai Kalemdikpol juga dicopot. Dia juga menyebut kalau pencalonan Budi sebagai calon Kapolri mesti dibatalkan. Anak sulung Gus Dur itu meyakini di Polri masih banyak sosok yang layak diprioritaskan menjadi Kapolri dan Kabareskrim. Sosok yang dinilainya bersih dan mampu menyelamatkan institusi Polri ke depan.

Pengamat politik dari Populi Center, Nico Harjanto, mendesak agar Kepala Bareskrim Irjen Pol Budi Waseso diganti. Menurutnya, ketegangan antara lembaga penegak hukum KPK dan Polri saat ini adalah karena tindakan Budi yang baru menjabat empat hari lalu. Nico mengungkapkan Irjen Budi sejak awal tidak menunjukkan sikap yang profesional sebagai seorang perwira tinggi. Malah, menurutnya dia bersikap partisan karena sejak awal menyatakan bahwa dia anak buah Komjen Budi Gunawan. Karena itu, Nico mendesak agar Presiden segera mengevaluasi Budi. Kegaduhan yang terjadi saat ini dinilainya sudah bisa menjadi dasar yang cukup kuat untuk melakukan penggantian. “Kalau tindakannya menimbulkan kegaduhan, insubkoordinasi dan pembangkangan terhadap Wakapolri yang sudah mendapatkan penugasan seperti Kapolri, itu tentu layak dievaluasi. Presiden bisa memerintahkan kepada pimpinan Polri untuk mengadakan sidang dewan kepangkatan dan jabatan tinggi untuk mengevaluasi posisi Kabareskrim tersebut,” pungkas Nico. Sebelumnya Jenderal Budi Waseso menjelaskan soal kehadirannya saat Komisaris Jenderal Budi Gunawan menjalani uji kelayakan dan kepatutan calon Kepala Kepolisian RI di Dewan Perwakilan Rakyat. Alasannya, menurut Budi Waseso, Budi Gunawan adalah atasannya.

Mantan Wakapolri Komjen (Purn) Oegroseno menilai penangkapan dan penetapan tersangka terhadap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto oleh Bareskrim Polri cacat hukum. Oegroseno menyarankan sebaiknya Kabareskrim Irjen (Pol) Budi Waseso plus calon Kapolri Komjen (Pol) Budi Gunawan dinonaktifkan saja. “Ini sudah melanggar etika. Nah makanya penyakitnya ada di dua, pertama di Budi Gunawan dan di Budi Waseso. Sudahlah, di non-aktifkan saja itu, aman sudah,” kata Oegroseno di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (23/1). Oegroseno menyoroti adanya pelanggaran etika dalam penangkapan Bambang. “Kalau saya masih aktif, saya usulkan pecat saja dia,” katanya. Apalagi Bambang dicokok oleh polisi saat sedang bersama putrinya yang bernama Izzat (20). “Ya semua, kalau sudah cacat hukum. Salah tulis nama saja cacat, nggak sah. Jadi masyarakat supaya tahu, nggak dikasih abu-abu lagi. Kalau sesuai prosedur, apakah polisi bisa menangkap seseorang dengan anaknya dibawa seperti itu? Prosedur yang mana? Polisi kan punya intelijen misalnya, ‘Oh rumahnya di sana.’ Ya datangi saja rumahnya,” ujar Oegroseno. Alasan penahanan Bambang juga dinilainya tak memenuhi syarat. Seseorang ditahan karena berpotensi mempersulit penyidikan, menghilangkan barang bukti, atau mengulangi perbuatannya. Dan syarat itu tak ada dalam peristiwa penahanan Bambang.

Emerson Junto, Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) mengatakan Presiden Jokowi harus segera memberhentikan pencalonan Komjen Budi Gunawan dan Kabareskrim Irjen Budi Waseso terkait dengan kasus penangkapan Bambang Widjojanto. “Presiden harus segera memberhentikan pencalonan Budi Gunawan dan juga Kabareskrim,” tambahnya.

Jawaban istana

Tetapi kritikan dan desakan mundur tersebut dijawab pihak istana oleh Sekretaris Kabinet Andi Widjojanto hanya menjawab normatif soal desakan itu. Bagi Andi sudah jelas, Jokowi meminta Polri menegakan profesionalisme dalam tiap tindakan hukumnya. “Setahu saya, Presiden memerintahkan Polri menjaga konsolidasi, menegakan disiplin agar Polri profesional untuk melakukan tindakan hukum ke depan,” kata Andi di Setneg Jakarta, Sabtu (24/1/2015).

ARTIKEL TERKAIT:

www.korananakindonesia.com

https://mediaanakindonesia.files.wordpress.com/2010/12/img00055-20101205-1659.jpg?w=291&h=218Supported by : KORANDO – Koran Anak Indonesia. Yudhasmara Foundation. “Pupuk Minat baca Anak sejak Dini. Membaca adalah investasi paling kokoh bagi masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. “SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA” Editor in Chief: Audi Yudhasmara. Co-editor: Sandiaz Yudhasmara. Foundation Director : Dr Widodo judarwanto pediatrician. Publisher : Narulita dewi. Editor: Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin. Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General support : Prabuningrat, Sis Wahyudi, Vavan Prayudha, Editor in Chief : Audi Yudhasmara. Reporter : Audi Yudhasmara. Sandiaz Yudhasmara, Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin. Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General Support : Prabuningrat, Sis Wahyudi.. Address: Menteng Square AR 20 Jln Matraman 30 Jakarta Pusat. Phone: 021-29614252 – 08131592-2012 – 08131592-2013 Mobil Phone: 089690509906 email : judarwanto@gmail.com http://korananakindonesia.com/ Komunikasi facebook: Koran Anak Indonesia

Copyright 2014. Koran Anak Indonesia Network Information Education Network. All rights reserved

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s