5 Cara SBY Menengahi Perseteruan KPK vs Polisi


5 Cara SBY Menengahi Perseteruan KPK vs Polisi

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono menengahi perselisihan dua lembaga penegakan hukum, yakni Kepolisian RI dan Komisi Pemberantasan Korupsi, yang dalam suasana genting. Puncak kegentingan itu ditandai dengan hadirnya puluhan penyidik dan provost dari Kepolisian Daerah Bengkulu yang ditengarai hendak menjemput paksa seorang penyidik senior di KPK bernama (Komisaris) Novel Baswedan pada Jumat (5/10). Suasana tegang karena hampir semua pimpinan KPK tak berada di tempat saat para polisi itu menyambangi KPK.

Ketika itu KPK sedang serius menangani kasus dugaan korupsi pengadaan simulator berkendara di Korps Lalu Lintas (Korlantas) Mabes Polri dalam tahun anggaran 2011. Novel-lah yang menjadi penyidik kasus itu dan turun langsung  memimpin penggeledahan di Markas Korlantas, Jakarta pada Senin hingga Selasa (31/7/2012). Menariknya juga, Novel-lah yang memeriksa mantan Kepala Korlantas Polri Inspektur Jenderal Djoko Susilo pada Jumat (5/10/2012). Dan tak selang berapa lama kemudian puluhan polisi yang sebagian berpakaian preman mencari-cari Novel di kantor KPK itu. Di saat KPK sedang serius mendalami kasus simulator berkendara tersebut, Mabes Polri pun secara mengejutkan menarik 20 penyidiknya dari KPK. Tentu saja pimpinan KPK kelimpungan menghadapi situasi yang terduga itu. Bagaimana nasib kasus-kasus penting yang ditangani oleh ke-20 penyidik yang ditarik, menjadi persoalan yang rumit dan membebani KPK.

Turun tangannya Presiden SBY dalam apa yang disebut sebagian penggiat antikorupsi sebagai “Cicak vs Buaya II” ini mendapat apresiasi besar dari publik. Sikap Presiden kali ini dinilai baru tegas. Banyak pujian yang dialamatkan ke SBY begitu usai berpidato yang didampingi antara lain Kapolri, Jaksa Agung, Menkopolhukam, serta Mensetneg itu.

Usai mempertemukan pimpinan KPK dan Kepala Polri, Abraham Samad dan Bambang Widjojanto, serta Jenderal (Pol) Timur Pradopo, pada Senin (8/1) malam Presiden SBY pun menitahkan lima amanat.

  1. Penanganan hukum dugaan korupsi pengadaan simulator SIM yang melibatkan Djoko Susilo agar ditangani KPK saja. Sedangkan Polri diminta untuk menangani kasus-kasus lain yang tidak terkait langsung dengan kasus simulator.
  2. Keinginan Polri untuk melakukan proses hukum bagi Novel Baswedan dianggap tidak tepat, baik dari segi timing maupun cara penanganannya.
  3. Perselisihan menyangkut waktu penugasan penyidik Polri yang bertugas di KPK diatur kembali dan akan dituangkan dalam peraturan pemerintah.
  4. Revisi UU KPK sepanjang untuk memperkuat dan tidak memperlemah KPK sebenarnya dimungkinkan, tetapi kurang tepat.
  5. KPK beserta Polri dapat memperbarui MoU-nya yang harus dipatuhi dan dijalankan serta terus meningkatkan sinergi dan koordinasi, sehingga peristiwa “perselisihan” tak terulang lagi di masa yang akan datang.

Langkah Cerdas SBY lainnya memutuskan dengan tegas:

  • Mabes Polri pun secara mengejutkan menarik 20 penyidiknya dari KPK. Untuk menghindari penarikan yang terkesan tiba-tiba seperti itulah Presiden SBY berjanji untuk segera mengeluarkan peraturan soal penyidik KPK dari instansi lain agar dapat bekerja empat tahun, tanpa ditarik di tengah masa kerjanya. KPK dan Polri juga diimbau untuk memperbarui MoU yang pernah diteken agar lebih baik, sehingga dapat memperbaiki sinergi dan soliditas kedua lembaga ini.
  • Presiden SBY turut mendukung penegakan hukum, terutama pemberantasan tindak korupsi dengan menolak rencana perubahan UU KPK, yang sudah masuk agenda Prolegnas, karena dinilai berpotensi melemahkan KPK. Sinyal pelemahan itu tampak pada klausul tentang izin penyadapan, pencabutan wewenang penuntutan, serta tidak adanya SP3 bagi suatu kasus korupsi.

www.korananakindonesia.com

https://mediaanakindonesia.files.wordpress.com/2010/12/img00055-20101205-1659.jpg?w=291&h=218Supported by : KORANDO – Koran Anak Indonesia. Yudhasmara Foundation. “Pupuk Minat baca Anak sejak Dini. Membaca adalah investasi paling kokoh bagi masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. “SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA” Editor in Chief: Audi Yudhasmara. Co-editor: Sandiaz Yudhasmara. Foundation Director : Dr Widodo judarwanto pediatrician. Publisher : Narulita dewi. Editor: Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin. Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General support : Prabuningrat, Sis Wahyudi, Vavan Prayudha, Editor in Chief : Audi Yudhasmara. Reporter : Audi Yudhasmara. Sandiaz Yudhasmara, Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin. Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General Support : Prabuningrat, Sis Wahyudi.. Address: Menteng Square AR 20 Jln Matraman 30 Jakarta Pusat. Phone: 021-29614252 – 08131592-2012 – 08131592-2013 Mobil Phone: 089690509906 email : judarwanto@gmail.com http://korananakindonesia.com/ Komunikasi facebook: Koran Anak Indonesia

Copyright 2014. Koran Anak Indonesia Network Information Education Network. All rights reserved
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s