Kisah Pilu Di Balik Hilangnya Pesawat Air Asia QZ 8501


Kisah sedih dan kehilangan luar biasa dialami banyak orang terutama keluarga penumpang dan awak Pesawat AirAsia QZ 8501 yang dilaporkan hilang dalam perjalanan dari Surabaya ke Singapura, Minggu (28/12/2014). Pesawat AirAsia yang hilang adalah Airbus A320 dengan nomor registrasi PK-AXC. Pesawat tersebut berangkat dari Surabaya pukul 05.20 pagi dan sampai di Singapura seharusnya pukul 08.30 waktu setempat atau pukul 07.30.

Kisah Pilu Di Balik Hilangnya Pesawat Air Asia QZ 8501

  • Anak kapten Iryianto Hilangnya pesawat AirAsia membuat kesedihan luar biasa bagi keluarga penumpang dan awak pesawat itu. Angela, putri pilot pesawat tersebut, Kapten Irianto. Di akun media sosial Path miliknya, Angela menulis, “Papa pulang. Kakak masih butuh papa. Kembalikan papaku. Papa pulang pa, papa harus ketemu.” Bersama tulisan itu, dia memajang foto Irianto.
  • Hati Angela Anggi Ranastianis (22) semakin sakit. Di tengah kegelisahan menanti nasib ayahnya, Irianto, media seolah kompak menyalahkan pilot AirAsia QZ8501 itu sebagai penyebab kecelakaan. Sejak dua hari lalu, pemberitaan mengenai tragedi AirAsia memang mengerucut pada fakta-fakta, seperti prakiraan cuaca BMKG yang tidak diambil pilot, hingga pelanggaran izin rute yang diduga dilakukan maskapai tersebut. Ninis, begitu remaja ini disapa, menuangkan kekecewaannya pada akun media sosial Path. “Semakin kesini TV semakin mencari kesalahan pada pilot. Tolong, untuk saat ini fokuskan untuk mencari papa saya. Papa saya belum ketemu. Jangan ngomong ini itu tentang papa saya,” tulisnya, Sabtu (3/1). Dia pun meminta agar semua media, terutama televisi, menghargai perasaan keluarga yang sedang berduka. “Papa saya keadaannya masih belum tahu dimana. Please, untuk semua Stasiun TV untuk tidak membuat berita yang seolah-olah menyalahkan papa saya. Mengerti keadaan keluarga saya bagaimana kan? (emoticon menangis)”.
  • Sebelum terbang, Kapten Iriyanto tengah berduka. Salah seorang adik Irianto, Edi meninggal dunia beberapa hari sebelum hilangnya pesawat Air Asia QZ 8501. Tiga hari sebelum keberangkatan, Irianto sempat datang ke Yogyakarta untuk menghadiri tujuh harian adiknya tersebut. Sepupu Iriyanto, Hendro Kusumo Broto mengatakan keluarga besarnya seperti mendapat pukulan dua kali. Belum sembuh kesedihan mereka karena kehilangan Edi, sekarang Irianto pun hilang bersama pesawat yang dipilotinya. “Ini seperti pukulan dua kali, tapi gimana, mungkin ini cobaan,” ujarnya. Hendro sendiri terakhir bertemu dengan Irianto tiga hari lalu. Saat itu saudara sepupunya tersebut tengah berada di Yogyakarta.
  • David Tedja Kusuma Keluarga David Teja Kusuma menanti dengan harap-harap cemas. Dia bertanya-tanya kabar tujuh anggota keluarganya yang ikut dalam penerbangan pesawat dengan nomor QZ 8501 itu. Tujuh anggota keluarga David yang kini bersama pesawat itu adalah ibunya, Joe Indri; adiknya, Meji Neja Kusuma, dan Jie Charlie Gunawan (suami Meji); serta tiga anak Meji-Jie, Stevanie Gunawan, Steven Gunawan, dan Stevy Gunawan. Ikut dalam rombongan nahas itu Christanto Lumewa, pacar Stevanie (putri pertama Meji-Jie Charlie). David tak menyangka keluarga adik dan ibunya bakal menjadi korban tragedi AirAsia. Dia menceritakan, adiknya sekeluarga memang merencanakan liburan ke Singapura sejak dua bulan lalu dengan mengajak ibunya, Joe. Mengetahui tujuh anggota keluarganya termasuk dalam daftar 155 penumpang AirAsia yang hilang, David mencoba menghubungi satu per satu keluarga yang ikut penerbangan tersebut. Namun, dia tidak mendapatkan balasan. “Saya telepon, tapi hanya mailbox. Saya BBM, WA (WhatsApp), dan LINE, hanya centang,” terangnya.  Ada tanda aneh dengan  perilaku adiknya yang tinggal di kawasan Pakuwon saat menjemput ibunya. Malam itu, Meji bersama sopirnya menjemput ibunya yang tinggal bersama David di Raya Kupang Baru untuk diinapkan di rumahnya di daerah Pakuwon karena mereka akan berangkat pagi-pagi sekali ke Bandara Juanda. “Biasanya, jika jemput ibu, Meji turun dari mobilnya. Paling tidak, dia mengobrol sama kami dulu. Tapi, waktu jemput ibu, Sabtu (27 Desember 2014) sekitar pukul 20.00 WIB, dia tidak turun dari mobil. Meji tetap di mobil sambil menelepon dan minta Ibu untuk keluar rumah menemui dia,” ujar David. David menjelaskan, setiap tahun keluarganya secara bergantian melakukan perjalanan ke luar negeri. Dia tak curiga pada perubahan sikap adiknya. “Saya tidak menyangka bahwa kejadiannya seperti ini,” katanya.

  • Nanang Priowidodo  penumpang Nias ‎Adityas, wanita warga Perumahan Delta Sari, Waru, Sidoarjo itu datang bersama cucunya, langsung menuju daftar nama penumpang yang ditempel. Suaminya Nanang Priowidodo (43), turut terbang bersama pesawat yang hilang tersebut.  Nanang bekerja di Travel Holiday, dan Minggu pagi tadi mengantar empat tamunya untuk berlibur ke Singapura. Sejak seminggu lalu, Nanang telah mengatakan, mendapat tamu satu keluarga untuk berlibur akhir tahun ke Singapura.  Tujuannya Singapura, kemudian ke Malaysia dan terakhir ke Lombok. Nias menyebut, suaminya memang sempat mengatakan minta maaf tidak bisa menemani keluarga untuk merayakan tahun baru. “Dia bilang, puji Tuhan Ma, tahun baru ini banyak rejeki. Aku dapat tamu, sekeluarga berlibur ke Singapura, kemudian ke Malaysia dan setelah tahun baru ke Lombok,” urainya. Di tempat penantian ini, Nias terus menitikkan air mata, sambil mendekap cucunya, dia berdoa agar suaminya bisa selamat.
  • Khairunisa Haidar Fauzi pramugari Air Asia QZ8501  Khairunisa Haidar Fauzi berencana untuk memberikan kejutan bagi sang kakak yang akan merayakan hari ulang tahun pekan depan harus tertunda sementara waktu. Sebelum pesawat tinggal landas dari Bandara Djuanda Surabaya menuju Singapura. Nisa sempat bercita-cita ingin memberikan hadiah kepada kakak pertamanya, Rahmat Hidayat (30 tahun) yang akan berulang tahun pada tanggal 7 Januari 2015 nanti. Nisa sempat menelepon ibundanya. Dalam pembicaraan dengan Rohana, Nisa mengatakan agar sang ibu merahasiakan kepulangannya pada Rahmat sebagai sebuah kejutan. Sebenarnya, keluarga Nisa menaruh firasat tak enak tatkala Nisa akan terbang ke Singapura. “Entah kenapa, satu bulan ini kami terbayang Nisa terus. Kemarin, sebelum dapat kabar, saya sempat tanya ke ibunya Rohana kabar Nisa, katanya baik saja. Satu jam setelah itu baru kami dapat kabar lagi jika pesawatnya hilang kontak,” ujar Lilis mengisahkan.
  • Syaiful Rahmat, Syaiful Rahmat 38 tahun, salah satu teknisi pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang kontak sejak Ahad pagi, 28 Desember 2014 sempat menulis status di Blackberry messengernya. Menurut Lia, kakak Syaiful, menjelaskan, sebelum terbang dengan AirAsia QZ8501 adiknya membuat status di BBM: Wahai anak adam, bertobatlah sebelum terlambat. Kerjakan amal dengan ikhlas dan sesuai dengan sunnah. Syaiful, ujar Lia, seorang agamais, baik hati dan ramah dengan semua orang, termasuk enam kakaknya. “Dia memang bukan ustad, tapi dia agamais,” kata Lia kepada Tempo di halaman Posko crisis center Terminal 2 Bandara internasional Juanda, Surabaya pada Rabu, 31 Desember 2014. Status semacam itu, menurut Lia, sering ditulis adiknya dalam akun BBM atau akun Facebook-nya. Sehingga dia tidak mempunyai firasat apapun ketika terjadi kecelakaan AirAsia QZ8501. Selain itu, adiknya memang rajin sholat dan selalu perhatian kepada kakak-kakaknya, sehingga disenangi banyak orang. “Enggak tahu saya kok enggak ada firasat apapun,” kata dia
  • Park Seong-bom Park Seong-bom bersama istri dan bayi mereka berumur 11 bulan menjadi penumpang Air Asia QZ8501. Keluarga ini terbang dari Surabaya menuju Singapura untuk melanjutkan ke Seoul guna memperbarui visa kerja. Park dan istrinya, Lee Kwung Hwa, membawa serta bayi perempuan mereka Park Yuna dalam perjalanan ini.  Selama empat bulan terakhir, Park tinggal di Surabaya untuk mengajar bahasa Korea dan komputer. Keluarga misionaris ini juga pernah tinggal di Kamboja selama empat tahun untuk menyebarkan ajaran agama.  “Dia selalu membantu orang yang membutuhkan tanpa pamrih,” kata Kim Jong Heon, juru bicara gereja Park di Yeosu, Korea Selatan, seperti dikutip Fox News. Park seorang pendeta misionaris.
  • Khairunisa Haidar Fauzi Pramugari Air Asia QZ 8501, Khairunisa Haidar Fauzi (22), meninggalkan sebuah pesan cinta untuk kekasihnya dari ketinggian 38 ribu kaki. Pesan cinta tersebut disampaikan Khairunisa melalui unggahan foto instagram terkhirnya. Khairunisa mengunggah sebuah foto secarik kertas berwarna coklat yang disandarkan di sebuah  jendela pesawat. Di atas kertas tersebut tertulis I love You From 38000 ft. Tulisan tersebut diketahui ditujukan Khairunisa untuk kekasihnya yang bernama Divo (22). Khairunisa selalu menyebut nama Divo di beberapa unggahan media sosialnya tersebut. Foto tersebut diduga diambil sebelum penerbangannya bersama Air Asia QZ8501.
    • Yonatan Sebastian Seorang penumpang pesawat AirAsia QZ8501 bernama Yonatan Sebastian (13) ternyata anak cerdas yang hobi komputer dan menyukai elektronika. Pelajar kelas VIII SMP Charis National Academy Malang itu baru saja membuat fanpage pada Facebook. Ia juga baru membuat situs pribadi http://www.yonatansebastian.com pada 22 Desember 2014, sebelum tragedi memilukan di perairan dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Minggu (28/12/2014) pagi itu terjadi. Dalam situsnya itu Yonatan terlihat serius menatap layar laptopnya. Laman Facebooknya juga dibanjiri ucapan belasungkawa dari teman-temannya. Seorang temannya, Sherly A, mengaku tak percaya teman sejak kecil itu menjadi korban AirAsia QZ8501. Yonatan adalah anak semata wayang pasangan Samuel Joyo Sentoso dan Kartika Dewi Sukianto. Yonatan dan kedua orangtuanya berangkat ke Singapura untuk mengisi liburan sekolah yang kemudian menjadi liburan akhir tahun terakhirnya.
    • Ria Ratnasari Sedang Hamil Djomi, salah seorang penumpang AirAsia QZ8501 yang jenazahnya berhasil diidentifikasi, Jumat (9/1), namanya menjadi perbincangan hangat di kalangan warga Ruteng, Manggarai, NTT. Selain sosoknya yang terkenal di kalangan warga Ruteng, perbincangan dan keprihatinan juga dipicu kabar yang menyebut bahwa istri Martinus, yakni Ria Ratnasari, sedang hamil. Bagi warga Ruteng, nama keluarga Martinus cukup tenar. Dia merupakan pengusaha sukses, yang disebut-sebut sebagai pemilik Pagi Swalayan di tiga lokasi, yakni Labuhan Bajo, Reo, dan Ruteng. Di daftar manifest penumpang AirAsia naas itu, Martinus duduk berderet dengan sang istri, Ria Ratnasari dan anaknya, Kaylee C Djomi. Martinus duduk di seat 8D, Ria di seat 8E, dan Kaylee di seat 8F
    • ABAH Marwin Sholeh Sang Paranormal. Paranormal asal Tulung Agung, Jatim, itu ikut menjadi korban musibah ini. Si abah merupakan salah satu penumpang pesawat AirAsia QZ8501 rute Surabaya-Singapura yang naas itu. Jenazah si Abah sudah berhasil diidentifikasi. “Untuk jenazah berlabel B020 tak terbantahkan, Marwin Sholeh, pria 50 tahun, warga Tulung Agung,” kata Kabid Dokkes Polda Jatim Kombes Pol Budiono saat mengumumkan jenazah korban AirAsia QZ8501 yang berhasil diidentifikasi, Jumat (9/1) di Surabaya. Dalam manifest penumpang AirAsia QZ8501, si Abah duduk di seat 30A. Iklan berpraktik paranormal si Abah ini juga masih ada di beberapa media internet. Disebutkan, si Abah juga membuka praktik di Singapura dan Malaysia. Dua bulan sekali, secara bergantian, si Abah melayani kliennya di kedua negara tetangga itu. Konon, para TKI yang ada di sana banyak yang menjadi klien Si Abah.
    • Vera Candra Berparas cantik, dikenal baik dan berprestasi di sekolah, itulah penilaian orang-orang yang kenal dengan Vera Chandra. Gadis yang berulang tahun tiap 5 Juli ini sedang dinanti-nanti kabarnya setelah pesawat AirAsia QZ 8501 yang dia tumpangi bersama ayahnya Kho Kosuma Chandra dan ibunya Sherlly hilang kontak sejak 2 hari lalu. Peristiwa ini tidak hanya membawa kesedihan bagi kerabat dan keluarga korban, kesedihan juga datang dari keluarga besar SMA 1 Tarakan, tempat Vera –sapaan akrabnya—menempuh ilmu 2 tahun silam.  Tentu saja menjadi buah bibir dalam keluarga besar SMA 1 Tarakan, mengingat perannya membawa nama baik Tarakan menuju tangga juara dalam beberapa lomba hingga ke tingkat nasional. Tak hanya itu, Vera juga dikenal baik, mulai dari Kepala SMA 1 hingga sekuritiy di sekolahnya itu kenal baik dengannya. Vera dikenal sopan pada guru, rekan sebaya, pegawai di sekolah hingga petugas kebersihan sekolah dan tidak memiliki catatan kelakuan buruk dengan beberapa prestasi yang diraih si cantik Vera. Semasa di SMA 1 Vera Chandra itu selalu mewakili SMA 1 dan Tarakan juga ketika ada lomba Bahasa Inggris di Jogjakarta, Tanjung Selor dan Olimpiade Astronomi di Samarinda. Meski berprestasi di tingkat kota hingga nasional justru tidak membuat prestasi siswi yang pernah duduk di bangku  kelas XII IPA ini surut di sekolah. Vera Chandra diketahui selalu masuk 10 besar. Dia juga itu selalu masuk 10 besar, karena memang anaknya rajin. Sementara itu, Roni Gunawan (30), sekuriti SMA 1 juga mengaku sangat akrab dengan dengan Vera Chandra. Roni mengenal Vera saat gadis berusia 19 tahun itu pertama kali menempuh pendidikan di SMA 1, tahun 2010 silam. Hal ini diakui karena keduanya sering kali bercanda dan saling bertukar pikiran. “Dia itu senang ngobrol sama kita, seneng dia itu sharing sama kita,” jelasnya mengakui Vera juga sangat supel dalam bergaul. Roni mengaku, keakraban mereka juga disebabkan orang tua Vera sering menitip bekal di pos tempatnya bekerja. “Vera itu enggak suka dia jajan di luar, makanya selalu diantarkan bekal oleh orang tuanya. Katanya biar lebih higienis,” ujarnya mengakui tas pembungkus bekal yang digunakan Vera sering berwarna merah. “Kalau ketemu di jalan pasti dia menyapa, pasti dia negur tuh. “Bapak, oh iya nak”, dimana pun kalau ketemu pasti disapa,” jelas pria yang sudah 6 tahun bekerja sebagai sekuriti di SMA 1 Tarakan ini. Roni sendiri mengaku kaget dan merasa kehilangan ketika mendengar kabar yang menimpa Vera. “Sekarang kami cuma berharap, semoga mereka cepat ditemukan, kami berharap supaya semua selamat,” jelasnya mengakhiri.

    sumber: JPNN, Kompas, Tempo dan berbagai sumber lainnya

 

www.korananakindonesia.com

https://mediaanakindonesia.files.wordpress.com/2010/12/img00055-20101205-1659.jpg?w=291&h=218Supported by : KORANDO – Koran Anak Indonesia. Yudhasmara Foundation. “Pupuk Minat baca Anak sejak Dini. Membaca adalah investasi paling kokoh bagi masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. “SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA” Editor in Chief: Audi Yudhasmara. Co-editor: Sandiaz Yudhasmara. Foundation Director : Dr Widodo judarwanto pediatrician. Publisher : Narulita dewi. Editor: Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin. Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General support : Prabuningrat, Sis Wahyudi, Vavan Prayudha, Editor in Chief : Audi Yudhasmara. Reporter : Audi Yudhasmara. Sandiaz Yudhasmara, Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin. Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General Support : Prabuningrat, Sis Wahyudi.. Address: Menteng Square AR 20 Jln Matraman 30 Jakarta Pusat. Phone: 021-29614252 – 08131592-2012 – 08131592-2013 Mobil Phone: 089690509906 email : judarwanto@gmail.com http://korananakindonesia.com/ Komunikasi facebook: Koran Anak Indonesia

Copyright 2016. Koran Anak Indonesia Network Information Education Network. All rights reserved


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s