Berita dan Kisah Lengkap Hilangnya Air Asia QZ 8501


Kisah Lengkap Hilangnya Air Asia

Kisah Kecelakaan Pesawat

Sebelum pesawat Air Asia QZ8501‎ hilang kontak, pilot sempat meminta izin untuk menghindari awan cumulonimbus yang ditakuti para penerbang. Pilot pesawat AirAsia Indonesia dengan nomer QZ8501 Kapten Irianto, sempat meminta belok ke kiri untuk menghindari awan pada pukul 06.17 WIB. Semenit berselang, ATC Bandara Soekarno-Hatta kehilangan kontak dengan Irianto. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan konfirmasi terkait cuaca disepanjang rute yang dilalui Pesawat AirAsia yang hilang kontak tersebut. Menurut BMKG, di kawasan rute penerbangan berawan dan banyak awan sepanjang rute. Terdapat awan tebal Cumulonimbus dan ada juga awan-awan jenis lainnya. Banyak spekulasi dan analisa penyebab hilangnya pesawat naas tersebut

Kronologi hilangnya pesawat AirAsia QZ8501

  • Pukul 05.36, pesawat berangkat dari Surabaya menuju Singapura dengan ketinggian 32.000 kaki. Pesawat dilaporkan mengikuti jalur yang biasa ditempuh antara Surabaya dan Singapura, yaitu M635.
  • Pukul 06.12 : Kontak terakhir pesawat dengan Air Traffic Control Jakarta. Dalam kontak itu, pilot meminta menghindar ke arah kiri dan meminta izin untuk naik ke ketinggian 38.000 kaki. Permintaan pilot disetujui oleh pihak ATC.
  • Pukul 06.16, pesawat masih ada di layar radar.
  • Pukul 06.17, pesawat hanya tinggal sinyal di dalam radar ATC.
  • Pukul 06.18, pesawat hilang dari radar. Yang ada pada radar tinggal data rencana terbang. Seharusnya, di dalam radar terdapat data lain, yakni realisasi terbang. Namun, data itu hilang.
  • Pukul 07.08, pesawat dinyatakan INCERFA, yakni tahap awal hilangnya kontak. Pihak Dirjen Perhubungan melakukan kontak ke Basarnas.
  • Pukul 07.28, pesawat dinyatakan ALERFA, tahap berikut dalam menyatakan pesawat hilang kontak.
  • Pukul 07.55, pesawat dinyatakan DETRESFA atau resmi dinyatakan hilang.

Inilah Nyawa Yang Selamat Dari Musibah AIR ASIA QZ 8501

  • Kisah keberuntungan dialami beberapa orang saat Pesawat AirAsia QZ 8501 dilaporkan hilang dalam perjalanan dari Surabaya ke Singapura, Minggu (28/12/2014). Beberapa orang yang beruntung diberi umur masih panjang ketika membatalkan atau secara tidak disengaja batal naik pesawat naas tersebut. Pesawat AirAsia yang hilang adalah Airbus A320 dengan nomor registrasi PK-AXC. Pesawat tersebut berangkat dari Surabaya pukul 05.20 pagi dan sampai di Singapura seharusnya pukul 08.30 waktu setempat atau pukul 07.30.
  • Satu keluarga 10 orang selamat dari Hilangnya Air Asia Keluarga Ari Putro Cahyono berjulah sepuluh orang yang bertempat tinggal di Surabaya merupakan calon penumpang AirAsia QZ 8501 selamat, karena batal menggunakan pesawat itu. Ari semula sudah memesan pesawat tersebut untuk berlibur ke Singapura bersama keluarga besarnya. Dia mengaku batal menggunakan pesawat itu, karena tidak menjawab telepon konfirmasi dari pihak AirAsia saat memastikan keberangkatan. Mulanya, Ari dan sembilan orang keluarganya akan mengadakan liburan ke Singapura. Rencananya, keberangkatan ke Singapura pada pukul 05.30 WIB. Namun, saat tiba di Bandara Juanda, petugas bandara menyatakan bahwa ia tidak dapat menggunakan pesawat tersebut, karena belum memberikan konfirmasi ulang terkait keberangkatannya itu. “Jadi, waktu itu memang saya ditelepon pihak AirAsia, tetapi tidak saya angkat. Lalu, ada pemberitahuan di e-mail juga tidak saya baca,” kata Ari. Kendati hal itu diakui murni kesalahannya, namun Ari tetap ngotot, agar dia mendapatkan pesawat. Sehingga, cekcok dengan petugas di bandara pun sempat terjadi. Karena tetap ngotot, pihak AirAsia akhirnya memberikan kelonggaran kepada Ari, agar berangkat menggunakan pesawat berikutnya. Pesawat itu akan berangkat pada pukul 12.00 WIB. Namun saat menerima kabar bahwa Ar Asia hilang Ari dan keluarganya mengurungkan niatnya. Karena ia mendapatkan informasi bahwa pesawat yang sebelumnya akan ditumpanginya, yaitu AirAsia QZ8501 hilang kontak dengan pihak Bandara Internasional Juanda. Ari merasa, dia dan keluarganya telah terselamatkan karena tidak menjawab telepon dari pihak AirAsia. “Mungkin saya masih dilindungi Tuhan, sehingga kami yang berjumlah 10 orang dalam satu keluarga ini tidak mendapatkan musibah itu,” tambahnya. Meski mengalami kerugian mencapai Rp60 juta karena terlanjur membayar reservasi salah satu hotel di Singapura, dan beberapa tempat wisata yang akan dikunjunginya. Tetapi Ari dan keluarganya bersyukur dapat selamat dari musibah
  • Purnomo. Warga Surabaya juga selamat ketika seminggu sebelumnya membatalkan perjalanan ke Simgapura karena ada acara keluarga yang penting. Tetapi naasnya tujuh orang lainnya ikut termasuk korban hilangnya pesawat air Asia. Saat selesai melakukan salat subuh Purnomo sempat kontak dengan salah satu temannya dan dengan kalimat terbata-bata sambil menangis Purnomo menjelskan bawa temannya dalam telepon tersebut mengatakan “Good Bye selamanya”. https://www.youtube.com/watch?v=u7l2akzKWD0

Analisa dan Spekulasi Penyebab Jatuhnya Pesawat Air Asia

  • Awan CB Penyebab Kecelakaan Awan Cumulonimbus atau dikenal sebagai awan CB adalah sebuah awan tebal vertikal yang menjulang sangat tinggi, padat, mirip gunung atau menara. Bagian pucuk awan ini berserabut, tampak berjalur-jalur dan hampir rata, melebar mirip bentuk landasan yang disebut anvil head. Awan ini terlibat langsung dalam badai petir dan cuaca ekstrem lainnya. Awan ini terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer. Awan-awan ini dapat terbentuk sendiri, secara berkelompok, atau di sepanjang front dingin di garis squall. Awan ini menciptakan petir melalui jantung awan. Awan ini dapat terbentuk lagi menjadi supersel, sebuah badai petir besar. Badai petir ini yang ditakuti para penerbang. Awan cumulonimbus terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer. Awan-awan ini dapat terbentuk sendiri, secara berkelompok, atau di sepanjang front dingin di garis squall. Awan ini menciptakan petir melalui jantung awan. Awan cumulonimbus terbentuk dari awan cumulus (terutama dari cumulus congestus) dan dapat terbentuk lagi menjadi supersel, sebuah badai petir besar dengan keunikan tersendiri. Awan tersebut ternyata berbahaya dikarenakan dapat membuat mesin dan sayap pesawat dipenuhi es. Jika memasuki awan tersebut, pilot akan menghadapi gumpalan es dingin yang bisa berbahaya jika masuk ke dalam buletan mesin dan wings pesawat karena bisa menempel. Untuk menghindari gumpalan es tersebut menempel di mesin dan sayap pesawat setiap pilot harus menyalakan pemicu busi. Busi tersebut berguna sebagai ternaga ekstra untuk memanaskan sayap, jendela dan mesin agar es mencair. Akibat dinyalakan busi tersebut biasanya mesin dikurangi dan daya tahan pesawat berkurang karena pesawat mempunya maksimun speed. Jika itu sudah terjadi biasanya pesawat akan jatuh karena kurang kecepatan untuk naik. Akan menjadi fatal jika sudah jatuh pesawat berputar-putar ada juga pesawat yang tidak bisa menahan tekanan dan akhirnya meledak. Saat pesawat memasuki awan cumulonimbus akan terjadi guncangan pada pesawat. Sementara itu, kecepatan angin disekitar hilangnya kontak pesawat pada ketinggian 30.000 feet yaitu 20 knot. Sedangkan pada ketinggian diatas 34.009 feet yaitu 25 knot. Dalam kecepatan angin tersebut, menurut Syamsul, pesawat masih bisa melaluinya dengan aman. Kondisi berawan tersebut sudah bisa diketahui airlines karena sebelum take off pasti BMKG sudah memberikan informasi terkait cuaca kepada otoritas bandara. Namun, memang kata dia, saat pesawat teraebut take off kondisi cuaca masih kondusif. Saat airlines memutuskan untuk terbang berarti sudah menganalisa siap terhadap cuaca. Pesawat AirAsia QZ8501 sempat meminta izin untuk naik ke ketinggian 38.000 kaki dari yang sebelumnya terbang di 32.000 kaki. Namun, permintaan itu ditolak oleh air traffic control (ATC). Pesawat terbang 32.000 kaki dan ke kiri, naik ke 38.000 kaki. Tetapi untuk naik 38.000 kaki, belum diizinkan karena di atasnya masih ada pesawat. Awalnya, pesawat sempat meminta ke kiri untuk menghindari awan, dan akhirnya diperbolehkan. Namun, izin itu tak dikeluarkan untuk menaikkan ketinggian. Pada waktu yang berdekatan ketika pesawat AirAsia QZ8501 hilang kontak, Minggu (28/12/2014), ada lebih dari satu penerbangan yang melintas di jalur penuh awan tersebut. Namun, posisi AirAsia QZ8501 berada pada posisi terendah di ketinggian jelajah, dibandingkan pesawat lain. Semua pesawat lain berada di ketinggian lebih dari 34.000 feet, ketinggian saat pesawat QZ8501 disebut hilang kontak. Setidaknya empat pesawat lain yang berdekatan dengan QZ8501 pada saat itu, yakni Garuda Indonesia berkode penerbangan GIA602, pesawat Lion Air berkode LNI763, AirAsia berkode penerbangan QZ502, dan Emirates berkode penerbangan UAE409. Ketinggian GIA602 adalah 35.000 kaki, LNI763 pada 38.000 kaki, QZ502 pada 38.000 kaki, dan UAE409 pada 35.000 kaki. Kontak terakhir disebut, QZ8501 minta menambah ketinggian 6.000 feet dari 32.000 feet. Kemungkinan pilot langsung menaikkan ketinggian, tidak memutar dulu misalnya, tetapi tidak terkejar untuk menghindari awan CB
  • Terlambat menghindari Cuaca buruk Pakar penerbangan terkemuka, Geoffrey Thomas, menganggap insiden hilangnya pesawat AirAsia QZ8501 mirip dengan insiden yang dialami pesawat Air France AF447 pada tahun 2009. Pakar yang juga editor airlineratings.com itu, percaya bahwa pilot AirAsia QZ8501 mengalami kondisi cuaca yang sulit. Tapi, dia menganggap pilot tersebut terbang terlalu lambat untuk menghindari cuaca buruk itu. Pilot percaya bahwa kru mencoba untuk menghindari badai dengan menanjak, entah bagaimana kemudian menemukan diri mereka terbang terlalu lambat dan dengan demikian diinduksi sebuah kondisi aerodinamis yang mirip dengan yang dialami Air France AF447 yang kecelakaan pada tahun 2009. Pesawat Air France AF447 jatuh ke Samudera Atlantik pada tahun 2009 saat dalam perjalanan dari Rio De Janeiro ke Paris. Pesawat QZ8501 terbang terlalu lambat, sekitar 100 knot yang setara 160 km/jam. Saat itu ketinggian (terbang pesawat) dalam kondisi sangat berbahaya. Pengalaman menunjukkan bahwa radar yang menunjukkan pesawat terbang di ketinggian 36 ribu kaki dan menanjak dengan kecepatan 353 knot, terbang dengan kecepatan 100 knot itu terlalu lambat. Hal seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi pada pesawat (AirAsia) A320, sebuah pesawat canggih

Pilot QZ 8501 , Lolos Dari Adam Air Terkena Musibah Air Asia

  • Bagianto atau biasa dipanggil Iryanto mengawali karir sebagai pilot di Kesatuan TNI Angkatan Udara. Iryanto adalah pilot Pesawat Air Asia QZ 8501 yang dilaporkan hilang dalam perjalanan dari Surabaya ke Singapura, Iryanto di Angkatan udaran adalah bekas penerbang pesat tempur. Pangkat terakhirnya di TNI AU adalah Letnan Satu. Pensiun dini dari TNI AU, dia kemudian menjadi pilot di Merpati.‎ Setelah itu, pindah di Adam Air. Saat itu, pesawat AdamAir sering mengalami kecelakaan. Namun Iryanto akhirnya memilih pindah ke AirAsia untuk menghindari peristiwa yang tidak diinginkan itu. Iryanto adalah pilot dengan pengalaman yang sangat tinggi dengan pegalaman terbang 6000 jam.
  • Pesawat AirAsia QZ 8501 dilaporkan hilang dalam perjalanan dari Surabaya ke Singapura, Minggu (28/12/2014). Beberapa orang yang beruntung diberi umur masih panjang ketika membatalkan atau secara tidak disengaja batal naik pesawat naas tersebut. Pesawat AirAsia yang hilang adalah Airbus A320 dengan nomor registrasi PK-AXC. Pesawat tersebut berangkat dari Surabaya pukul 05.20 pagi dan sampai di Singapura seharusnya pukul 08.30 waktu setempat atau pukul 07.30.
  • Hilangnya pesawat AirAsia membuat kesedihan luar biasa bagi keluarga penumpang dan awak pesawat itu. Angela, putri pilot pesawat tersebut, Kapten Irianto. Di akun media sosial Path miliknya, Angela menulis, “Papa pulang. Kakak masih butuh papa. Kembalikan papaku. Papa pulang pa, papa harus ketemu.” Bersama tulisan itu, dia memajang foto Irianto.

www.korananakindonesia.com

https://mediaanakindonesia.files.wordpress.com/2010/12/img00055-20101205-1659.jpg?w=291&h=218Supported by : KORANDO – Koran Anak Indonesia. Yudhasmara Foundation. “Pupuk Minat baca Anak sejak Dini. Membaca adalah investasi paling kokoh bagi masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. “SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA” Editor in Chief: Audi Yudhasmara. Co-editor: Sandiaz Yudhasmara. Foundation Director : Dr Widodo judarwanto pediatrician. Publisher : Narulita dewi. Editor: Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin. Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General support : Prabuningrat, Sis Wahyudi, Vavan Prayudha, Editor in Chief : Audi Yudhasmara. Reporter : Audi Yudhasmara. Sandiaz Yudhasmara, Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin. Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General Support : Prabuningrat, Sis Wahyudi.. Address: Menteng Square AR 20 Jln Matraman 30 Jakarta Pusat. Phone: 021-29614252 – 08131592-2012 – 08131592-2013 Mobil Phone: 089690509906 email : judarwanto@gmail.com http://korananakindonesia.com/ Komunikasi facebook: Koran Anak Indonesia

Copyright 2014. Koran Anak Indonesia Network Information Education Network. All rights reserved
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s