10 Kasus Pedofilia Yang Menghebohkan Indonesia


image10 Kasus Pedofilia Yang Menghebohkan Indonesia

Praktik pedofilia di Indonesia mulai ramai dibicarakan sekitar sepuluh tahun terakhir. Beberapa kasus praktek kejahatan pedofilia mulai sering dilaporkan, khususnya dari aktivis LSM Perlindungan Anak. Apalagi dalam beberapa kasus yang terkuak para pelaku pedofilia itu adalah warga negara asing. Tidak heran di daerah-daerah wisata Indonesia yang sering dikunjungi wisatawan asing dijadikan surga praktik pedofilia. Biasanya mereka mengelabuhi anak-anak dengan memberikan uang, pakaian, makanan atau mainan secara berlebihan. Terkadang anak diangkat sebagai salah satu anak asuhnya dengan mengatasnamakan dirinya sebagai pekerja sosial LSM. BUkan hanyaitu ternyaa para pedfi ini juga mengancam justru di tempat yang dianggap aman oleh orangta seperti di lingkungan rumah, di sekolah bahkan di tempat pesantren

imagePada tahun 1995 Kapolda Bali saat itu Irjen Pol Made Mangku Pastika mengungkapkan, hasil penyelidikan polisi menunjukkan, modus kaum pedofil warga asing dalam melancarkan aksinya, berpura-pura menjadi seorang donatur. Karenanya, Kapolda mengingatkan masyarakat Bali untuk lebih berhati-hati dalam menerima uluran tangan dari para anggota foundation yang belum jelas keberadaannya. Menurut Profesor LK Suryani, Direktur LSM Committee Againts Sexual Abuse (CASA) Bali menyatakan adanya petunjuk kuat bahwa kaum pedofilia telah menjadikan Bali sebagai salah satu daerah tujuan mereka. Terbukti dengan banyak beredarnya foto-foto anak-anak Bali di Internet. Bahkan kasus praktik pedofilia juga pernah terjadi di Lombok, Batam, Medan, Ujung Pandang dan Surabaya.

Dilihat dari berbagai bentuk karakteristik perbuatan kaum pedofilia bisa dikatakan anak-anak dieksploitasi sebagai korban. Anak-anak sebagai korban mestinya dilindungi dan memperoleh pelayanan khusus, terutama di bidang hukum. Secara juridis, pihak yang dituntut bertanggungjawab adalah eksploitatornya atau pelakunya. Selama ini undang-undang yang sering dipakai untuk mengadili penjahat ini adalah dengan KUHP Pasal 292 juncto pasal 6

Pada tahun 1995 Kapolda Bali saat itu Irjen Pol Made Mangku Pastika mengungkapkan, hasil penyelidikan polisi menunjukkan, modus kaum pedofil warga asing dalam melancarkan aksinya, berpura-pura menjadi seorang donatur. Karenanya, Kapolda mengingatkan masyarakat Bali untuk lebih berhati-hati dalam menerima uluran tangan dari para anggota foundation yang belum jelas keberadaannya. Menurut Profesor LK Suryani, Direktur LSM Committee Againts Sexual Abuse (CASA) Bali menyatakan adanya petunjuk kuat bahwa kaum pedofilia telah menjadikan Bali sebagai salah satu daerah tujuan mereka. Terbukti dengan banyak beredarnya foto-foto anak-anak Bali di Internet. Bahkan kasus praktik pedofilia juga pernah terjadi di Lombok, Batam, Medan, Ujung Pandang dan Surabaya.

Akan tetapi hukum di Indonesia yang menjerat pelaku praktik pedofilia tidaklah serius. Sehingga hukuman bagi kaum pedofil seperti halnya Wiliam Stuart Brown (52 tahun) asal Australia tidak setimpal dengan yang telah diperbuat dan resiko rusaknya masa depan para korban. Bahkan Mario Manara (57 tahun) turis asal Italia yang terbukti melakukan praktik pedofilia hanya dijatuhi hukuman penjara kurang dari setahun. Brown William Stuart alias Tony, 52, terpidana kasus pedofilia, diputus menggunakan UU No 13/2002 tentang Perlindungan Anak. Kasus Tony, mantan diplomat Australia, boleh dikata merupakan kasus pedofilia kedua yang paling menggegerkan di Indonesia. Kasus Tony itu hampir menyamai “keganasan” si Robot Gedek pada pertengahan tahun sembilan puluhan. Hanya, kelebihan pada kasus Robot Gedek, sejumlah korban, yakni anak-anak usia belasan tahun tewas dibunuhnya. Tentang Pencabulan. Tuntutan maksimalnya 5 tahun dipandang banyak aktivis perlindungan anak sudah tidak relevan untuk memberikan efek jera bagi si pelaku.

10 Kasus Pedofilia Yang Menghebohkan Indonesia

  1. Bayquni alias Babeh Kasus pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan Bayquni alias Babeh merupakan yang terbesar saat ini, bahkan mengalahkan kasus Robot Gedek dan Verry Idham Heriansyah alias Ryan. Sampai saat ini kasus Babeh merupakan angka terbesar dari pengakuan pertama yaitu satu korban hingga 14 korban. Polisi berhasil menangkap pelaku sodomi dan mutilasi, Baekuni alias Babeh, terhadap seorang bocah bernama Ardiansyah (10), yang potongan tubuhnya ditemukan di kawasan Banjir Kanal Timur (BKT), Cakung, Jakarta Timur, 8 Januari 2010.  Yang mengagetkan pelaku mengaku telah menghabisi delapan orang. Korban kedelapan bernama Teguh. Hal ini terungkap setelah jajaran Polda Metro Jaya melakukan pendalaman pemeriksaan terhadap pria 48 tahun itu.
  2. Robot Gedek Terpidana mati, Robot Gedek, sekitar tahun 1995 sempat mengemparkan warga Jakarta dan jawa tengah, karena melakukan sodomi terhadap puluhan anak pada rentang waktu 1994-1996 dengan korban 12 orang anak. selain disodomi robot gedek juga memutilasi korbannya dan merobek isi perut korbannya untuk dia ambil dan dilakukan untuk pemenuhan hasrat. Pria bertubuh kecil, bertinggi badan tidak lebih dari 150 cm, dan apabila berjalan kerap kali menggoyang-goyangkan kepalanya ialah Robot Gedek (33), pelaku sodomi dan pembunuhan sejumlah bocah laki-laki di Jakarta. Pria yang kesehariannya adalah pemulung dan gelandangan ini ditangkap polisi di Stasiun KA Tegal pada Sabtu, 27 Juli 1996. Pelaku sodomi dan pembunuhan ini kemudian diperiksa dan ditahan di tahanan Polres Jakarta Pusat. Menurut penuturan si pelaku jumlah korban yang telah disodomi lalu dibunuh mencapai delapan anak jalanan yang berusia antara 11-15 tahun dan dilakukannya selama dua tahun di Jakarta dan dua lagi di Jawa Tengah (Kroya dan Pekalongan). Pria kelahiran Ketandan, Batang, Jawa Tengah dan sejak umur empat tahun telah menjadi anak jalanan di Jakarta ini mengaku puas dengan apa yang telah dilakukannya terhadap para korban. Pria berinisial Sis ini mengaku mendekati dan membujuk korban hanya dengan pemberian uang seribu-duaribu atau dengan mengajak mereka bermain dingdong atau ditraktir makan. Setelah terbujuk Sis mengajak korban ke tempat sepi lalu melakukan sodomi dan menghabisi nyawa korban dengan menjerat lehernya dengan tali rafia lalu menyayat perut korban yang sudah tak bernyawa itu dengan silet dan kemudian menghisap darah sang korban. Setiap setelah melakukan perbuatan tersebut, Sis alias Robort Gedek mengaku puas dan merasa tak bersalah dan tidak takut masuk penjara apalagi dosa. Robot Gedeg, dikawal petugas LP di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Permisan, Nusakambangan, Jawa Tengah. Semua itu dilakukan demi kepuasaan seksnya dan ia mengaku pusing kepala apabila dalam sebulan tidak melakukan perbuatan tersebut. Dalam menangani kasus ini Polres Metro Jakarta Pusat membutuhkan psikiater di Polda Metro Jaya untuk memeriksa kondisi kejiwaan si pelaku sebelum melakukan rekonstruksi peristiwa. Dalam melakukan aksinya, tersangka selalu meninggalkan bukti kejahatan dengan menyilet perut korban. Dalam sesi penuntutan di persidangan yang digelar PN Jakpus, Robot Gedek menyatakan, ketika membunuh bocah-bocah itu dia tidak sadar dan seolah-olah berada dalam bayang-bayang. “Dalam bayangan saya, yang saya bunuh itu adalah ayam,” ungkap dia waktu itu. Dalam persidangan dia dituntut hukuman mati.
  3. Wiliam Stuart Brown (52 tahun) asal Australia tidak setimpal dengan yang telah diperbuat dan resiko rusaknya masa depan para korban. Peaku mencabuli 2 remaja, yakni IB (16) dan IM (14), pada 2004 di pulau Bali. Modus pelaku membujuk korban dengan uang dan makanan. Pengadilan Negeri (PN) Karangasem menjatuhkan vonis 13 tahun penjara. Namun sehari setelah menerima vonis, Brown bunuh diri di sel LP Ambapura, Bali
  4. Mario Manara (57 tahun) turis asal Italia yang terbukti melakukan praktik pedofilia hanya dijatuhi hukuman penjara kurang dari setahun. Brown William Stuart alias Tony, 52, terpidana kasus pedofilia, diputus menggunakan UU No 13/2002 tentang Perlindungan Anak. Kasus Tony, mantan diplomat Australia, boleh dikata merupakan kasus pedofilia kedua yang paling menggegerkan di Indonesia. Pelaku mencabuli 9 anak kecil pada 2001 di Kabupaten Buleleng, Bali. Modus pelaku emberikan uang dan pakaian pada korban.
  5. MH Enam siswa sekolah dasar di Tabanan, Bali menjadi korban pedofilia. Mereka dipaksa melakukan oral seks oleh MH, 37 tahun, seorang karyawan perusahaan air minum isi ulang dari Sidoarjo, Jawa Timur. Saat ini, MH telah ditahan di Polres Tabanan. Kapolres Tabanan, AKBP Rudolf A Rodja, mengatakan Kepolisian sedang menelusuri kemungkinan adanya korban lain. Sebab dari pengakuan MH, perilaku menyimpangnya sudah dilakukan sejak dua tahun lalu. Ia selalu mengancam anak-anak yang menolak atau mengadukan perbuatannya kepada orang lain. Sebaliknya, kata Rudolf, MH selalu memberi upah kepada korban Rp 1.000,- setelah puas melakoni perbuatan itu. Terbongkarnya kasus ini berawal dari tertangkapnya salah satu korban ketika ia sedang mencuri uang di plangkiran (tempat sembahyang-red) di pasar Tabanan. Setelah diinterogasi Polisi, anak itu mengaku mencuri karena tak pernah lagi diberi uang oleh MH setelah diminta melakukan oral seks. “MH diancam Undang-Undang Perlindungan Anak dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp 300 juta.
  6. Tjandra Adi Gunawan (37) seorangg dokter gigi di Surabaya diduga mengidap fedofilia. Dalam mencari korbannya ia menyamar sebagai dokter perempuan di dunia maya. Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Arief Sulistyanto, pelaku sengaja membuat akun facebook menyamar sebagai seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter kesehatan reproduksi remaja. Pelaku meng-invite (mengundang) korbannya, setelah diterima dia mengajak chat korbannya. Setelah di add korbannya, kemudian pelaku melancarkan aksinya dengan menjelaskan terlebih dahulu tentang kesehatan reproduksi untuk meyakinkan korbannya. Kemudian pelaku meminta korban untuk memfoto dirinya sendiri mulai dari berpakaian lengkap hingga telanjang. Bahkan anak-anak tersebut diminta sampai melakukan masturbasi dan di foto. Selanjutnya, pelaku meminta korbannya mengirimkan hasil fotonya. Kemudian Tjandra mengunggah foto korbannya ke media sosial. Tjandra Adi Gunawan sengaja menyebar foto-foto anak yang menjadi korbannya kepada orangtua dan guru melalui sosial media serta berbagai website.Tjandra menyebarkan 10 236 foto tidak senonoh anak-anak di dunia maya. Pelaku fedofilia tersebut mengupload foto korbannya yang merupakan siswi sekolah dasar di Surabaya, termasuk foto seorang anak laki-laki. Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Arief Sulistayanto mengungkapkan ada enam siswa yang menjadi korban pelaku yang menimba ilmu pada sekolah yang sama di Surabay. Enam korban tersebut terdiri dari empat siswi SD berusia 11 sampai 12 tahun, satu siswi SMP berusia 14 tahun, dan satu siswa SMP berusia 14 tahun. Total foto yang ditemukan ada 10.236 buah foto pornografi anak. Dari jumlah ribuan tersebut, enam foto diantanya adalah foto enam korban yang ditipunya melalui facebook.
  7. Kasus JIS Beberapa anak menjadi korban kekerasan seksual berupa sodomi oleh para petugas kebersihan di sekolahnya di Jakarta International School (JIS), Pondok Indah, Jakarta Selatan. Peristiwa itu dialami AK di toilet sekolah dan dilakukan berkali-kali sejak Februari sampai Maret 2014 lalu. Dari pengakuan AK kepada ibunya TW (40), pelaku pelecehan seksual dipastikan lebih dari dua orang dan bahkan sangat mungkin lebih dari 5 atau 6 orang. Dua orang cleaning service di Taman Kanak-Kanak Jakarta International School (JIS) terbukti melakukan kekerasan seksual terhadap salah satu siswa yang masih berusia 5 tahun, di toilet sekolah. Kedua pelaku diduga sudah mengintai korban dan mengetahui apa yang menjadi kesukaan korban. “Anak saya ini suka segala sesuatu yang berwarna pink. Jadi waktu itu anak saya dikerjai pelaku, disuruh mengeluarkan ‘semut’ dari ‘pensil’ berwarna pink,” ujar sang Bunda korban. Mereka akan dijerat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 82 tentang Pencabulan Anak di Bawah Umur, dengan ancaman 15 tahun penjara.
  8. KH Fauzan Kekerasan seksual menimpa 9 orang santriwati Ponpes Ma’rajul Ma’ali Desa Sempol, Kecamatan Prajekan Bondowoso, diusut serius oleh Tim Reskrim Polres setempat. Yang menyedihkan dan mengenaskan kali ini dilakukan oleh pembina pesantren tersebut. Kiai yang membimbing ilmu agama malah mencabulinya dengan seribu alasan dan bujuk rayu. Sejumlah bahan keterangan, dan barang bukti dikumpulkan. Wajah santriwati yang masih berusia sekitaran 10 tahunan itu terlihat sayu sedang dalam pemrosesan pihak berwajib di sana. Pemerkosaan yang dilakukan oleh KH Fauzan, 30, alias Husein atau lebih dikenal dengan panggilan Talot, ternyata tak hanya seorang santriwati saja. Namun, ada tujuh santriwatinya yang mengaku dihipnotis lalu diperkosa di kamar pelaku dalam lingkungan Ponpes di Desa Sempol, Kecamatan Prajekan. Hal itu diketahui dengan kedatangan para santriwatinya yang rata-rata di bawah umur bersama orang tuanya masing-masing ke Mapolres Bondowoso, kemarin. Mereka mendatangi penyidik Unit Perlindungan Anak untuk menjalani pemeriksaan. Ketujuh santriwati itu mengaku disetubuhi oleh Fauzan untuk memuaskan nafsu bejatnya. ”Dia itu tidak pantas menyandang gelar kiai. Kalau kiai itu tidak akan berbuat memerkosa anak-anak didiknya. Dia cocok disebut penjahat kelamin,” ungkap salah seorang dari orang tua korban kemarin (14/2).
  9. Max Le Clerco Mencabuli bocah berinisial K, yang baru berusia 9 tahun pada 2005 di Banjar Kaliasem, Kabupaten Buleleng, Bali. Modus pelaku membujuk korbannya dengan berpura-pura berbuat baik. Terlebih dia menjadi sponsor kegiatan sepak bola anak-anak di kawasan Lovina. Pelaku memberikan uang, kaos, dan sepatu sepak bola untuk mengiming-imingi korban. Max dijerat pasal 82 UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak juncto Pasal 289 juncto Pasal 292 KUHP
  10. Syekh Puji Kiai kaya raya, Syekh Puji mengaku akan menikahi dua bocah lagi, umurnya 9 dan 7 tahun. Keduanya akan dinikahi sekaligus dengan Lutfiana Ulfa, 12 tahun.(Kompas,24 oktober 2008). Kasus pernikahan dengan anak di bawah usia tersebut dalam beberapa saat ini marak dibicarakan berbagai kalangan. Lutfiana Ulfa adalah sebuah gambaran memilukan sekian banyak anak Indonesia yang menjadi korban kenistaan orangtua.  Pujiono Cahyo Widianto alias Syekh Puji tetap divonis hukuman empat tahun penjara dan wajib membayar denda Rp 60 juta. Putusan tersebut dijatuhkan Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Tengah. Majelis hakim menolak permohonan Banding Syek Puji dalam kasus pelanggaran UU Perlindungan Anak, yakni menikahi anak di bawah umur. Brbaai pengamat menilai nbahwa kasus tersebut adalah mnerupakan salah satu pedofilia

Pedofilia

  • Pedofilia terdiri dari dua suku kata; pedo (anak) dan filia (cinta). Pedofilia adalah kelainan seksual berupa hasrat ataupun fantasi impuls seksual yang melibatkan anak di bawah umur. Orang dengan pedofilia umurnya harus di atas 16 tahun baik pria maupun wanita, sedangkan anak-anak yang menjadi korban berumur 13 tahun atau lebih muda (anak pre-pubertas). Dikatakan pedofilia jika seseorang memiliki kecenderungan impuls seks terhadap anak dan fantasi maupun kelainan seks tersebut mengganggu si anak.
  • Secara sekilas praktek pedofilia di Indonesia dianggap sebagai bentuk perilaku sodomi. Akan tetapi kalau dilihat lebih jauh sangatlah berbeda. Karena terkadang penderita pedofilia bukan hanya dari kaum lelaki tetapi juga mengenai kaum perempuan dimana mereka tidak hanya tertarik pada lawan jenis. Korbannya pun bisa jadi anak laki-laki maupun perempuan.
  • Penyebab dari pedofilia belum diketahui secara pasti. Namun pedofilia seringkali menandakan ketidakmampuan berhubungan dengan sesama dewasa atau adanya ketakutan wanita untuk menjalin hubungan dengan sesama dewasa. Jadi bisa dikatakan sebagai suatu kompensasi dari penyaluran nafsu seksual yang tidak dapat disalurkan pada orang dewasa.
  • Kebanyakan penderita pedofilia menjadi korban pelecehan seksual pada masa kanak-kanak. Anak-anak yang terlibat dalam pedofilia, 2 – 3 diantaranya dalam aktivitas seksual tersebut bersifat koperatif terhadap orang dewasa yang sama maupun bukan. Meskipun demikian sikap koperatif anak-anak ini lebih dikarenakan perasaan takut dibanding ketertarikan terhadap seks itu sendiri.
  • Aktivitas seks yang dilakukan oleh penderita pedofilia sangat bervariasi. Aktifitas tersebut meliputi tindakan menelanjangi anak, memamerkan tubuh mereka pada anak, melakukan masturbasi dengan anak, dan bersenggama dengan anak. Jenis aktivitas seksual lain yang dilakukan juga bervariasi tingkatannya, termasuk stimulasi oral pada anak, penetrasi pada mulut anak, vagina ataupun anus dengan jari, benda asing, atau alat kelamin laki-laki. Orang dengan pedofilia seringkali merasionalisasikan dan beralasan bahwa perilakunya merupakan hal sifatnya mendidik, dan anak-anak tersebut juga mendapat kepuasan seksual, atau anak-anak itu sendiri yang menggoda.
  • Aktivitas seksual melibatkan anak dari anggota keluarga sendiri ataupun anak-anak lain. Korban dari penganiayaan seks ini biasanya diancam untuk tidak membeberkan rahasia. Seringkali orang dengan pedofilia sebelumnya melakukan pendekatan terhadap anak, seperti melibatkan diri dengan wanita yang memiliki anak-anak, menyediakan rumah yang terbuka pada anak-anak, sesama orang pedofilia bertukar anak ataupun penculikan anak dengan tujuan untuk mendapatkan kepercayaan, kesetiaan, maupun kasih sayang anak tersebut, sehingga anak tersebut dapat menjamin rahasia.

image

  • Darurat Kekerasan Seksual Pada Anak Indonesia benar -benar terjadi. Dunia ini sudah tidak ada tempat yang aman lagi bagi anak-anak yang tidak berdaya menghadapi kekerasan biadab manusia dewasa. Bukan hanya di Sekolah Internasional yang terkenal aman, ketat dan disliplin . Di pesantren yang penuh kehidupan moral dan agamis sudah dikotori oleh ulah pedofil yang berkedok Kiai.
  • Kekerasan dan kejahatan seksual sering dilakukan oleh penderita dewasa yang mengalami kelainan seksual. Kelainan seksual adalah cara yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan jalan tidak sewajarnya. Cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah dengan menggunakan objek seks yang tidak wajar. Salah satu bentuk kelainan seksual yang ada di masyarakat adalah parafilia. Parafilia merupakan gangguan seksual yang ditandai oleh khayalan seksual yang khusus dan desakan dan praktek seksual yang kuat, yang biasanya berulang kali dan menakutkan bagi seseorang.
  • Beberapa jenis parafilia adalah ekshibisionisme, fetihisme, frotteurisme, pedofilia, masokisme seksual, sadismeseksual, veyourisme atau fetihisme transvestik. Pedofilia merupakan salah satu jenis parafilia yang lebih sering terjadi. Meskipun kasusnya cenderung meningkat sampai saat ini belum ada data yang akurat tentang angka kejadian penderita yang mengalami gangguan tersebut. Adanya prostitusi terhadap anak-anak di beberapa negara dan maraknya penjualan materi-materi pornografi tentang anak-anak, menunjukkan bahwa tingkat ketertarikan seksual terhadap anak tidak sedikit. Anak yang sedang tumbuh dan berkembang akan menjadi korban baik secara psikis dan fisik.

Pengaruh pada anak

  • Anak sebagai korban dalam kasus pedofilia, secara jangka pendek dan jangka panjang dapat mengakibatkan gangguan fisik dan mental. Gangguan fisik yang terjadi adalah resiko gangguan kesehatan. Saat melakukan hubungan kelaminpun seringkali masih belum bersifat sempurna karena organ vital dan perkembangan hormonal pada anak belum sesempurna orang dewasa. Bila dipaksakan berhubungan suami istri akan merupakan siksaan yang luar biasa, apalagi seringkali dibawah paksaan dan ancaman. Belum lagi bahaya penularan penyakit kelamin maupun HIV dan AIDS, karena penderita pedofilia kerap disertai gonta ganti pasangan atau korban. Bahaya lain yang mengancam, apabila terjadi kehamilan. Beberapa penelitian menunjukkan perempuan yang menikah dibawah umur 20 th beresiko terkena kanker leher rahim. Pada usia anak atau remaja, sel-sel leher rahim belum matang. Kalau terpapar human papiloma virus atau HPV pertumbuhan sel akan menyimpang menjadi kanker.
  • Usia anak yang sedang tumbuh dan berkembang seharusnya memerlukan stimulasi asah, asih dan asuh yang berkualitas dan berkesinambungan. Bila periode anak mendapatkan trauma sebagai korban pedofilia dapat dibayangkan akibat yang bisa terjadi. Perkembangan moral, jiwa dan mental pada anak korban pedofila terganggu sangat bervariasi. Tergantung lama dan berat ringan trauma itu terjadi. Bila kejadian tersebut disertai paksaan dan kekerasan maka tingkat trauma yang ditimbulkan lebih berat. Trauma psikis tersebut sampai usia dewasa akan sulit dihilangkan. Dalam keadaan tertentu yang cukup berat bahkan dapat menimbulkan gangguan kejiwaan dan berbagai kelainan patologis lainnya yang tidak ringan. Dalam keadaan ini pendekatan terapi sejak dini mungkin harus segera dilakukan. Secara sosial, baik lingkungan keluarga atau lingkungan kehidupan anak kadang merasa diasingkan dengan anak sebaya dan sepermainan. Beban ini dapat memberat trauma yang sudah ada sebelumnya.

Pencegahan

  • Melihat kenyatan kehidupan sehari-hari ternyata banyak anak Indonesia yang sering dibaikan haknya demi kepentingan nista dari orang dewasa. Pedofilia adalah salah satu contoh memilukan terabaikannya hak anak Indonesia. Anak adalah nyawa tak berdaya yang tak mampu menolak paksaan, deraan dan trauma dari orang dewasa. Padahal anak adalah modal terbesar dan harapan masa depan bangsa ini. Kaum Pedofilis harus segera sadar, dengan kenistaan yang hanya memburu kenikmatan sesaat itu ternyata dapat menghancurkan anak seumur hidupnya. Semua lapisan masyarakat, institusi swasta dan instasi pemerintah harus bahu membahu tiada henti bekerjasama melawan dan melindungi anak Indonesia dari ancaman segala kekerasan terutama pedofilia. Para orangtua harus selalu waspada dan hati-hati terhadap singa berbulu domba seorang pedofilia.

ARTIKEL PEDOFILIA TERKAIT

Supported by :
https://mediaanakindonesia.files.wordpress.com/2010/12/img00055-20101205-1659.jpg?w=291&h=218KORANDO – Koran Anak Indonesia. Yudhasmara Foundation Editor in Chief: Audi Yudhasmara. Co-editor: Sandiaz Yudhasmara. Foundation Director : Dr Widodo judarwanto pediatrician. Publisher : Narulita dewi. Editor: Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin.Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General support : Prabuningrat, Sis Wahyudi, Vavan PrayudhaDr Widodo judarwanto pediatrician. Publisher : Narulita dewi. Editor in Chief : Digna Betanandya. Reporter : Audi Yudhasmara. Sandiaz Yudhasmara, Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin.Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General support : Prabuningrat, Sis Wahyudi.

“PUPUK MINAT BACA ANAK DAN REMAJA INDONESIA SEJAK DINI”. 

Membaca adalah investasi paling kokoh bagi

masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. 

“SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA”.

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat  Phone : (021) 5703646

email : korando@gmail.com http://korananakindonesia.com/

Copyright 2014. Koran Anak Indonesia Network Information Education Network. All rights reserved
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s