Kisah Lengkap Kekejaman Raja Firaun


wp-1496991758708.Kisah Lengkap Kekejaman Raja Firaun

Fir’aun adalah gelar yang dalam diskusi dunia modern digunakan untuk seluruh penguasa Mesir kuno dari semua periode.Dahulu, gelar ini mulai digunakan untuk penguasa yang merupakan pemimpin keagamaan dan politik kesatuan Mesir kuno, hanya selama Kerajaan Baru, secara spesifik, selama pertengahan dinasti kedelapanbelas. Untuk penyederhanaan, terdapat kesepakatan umum di antara penulis modern untuk menggunakan istilah ini untuk merujuk penguasa Mesir semua periode. Firaun juga mengaku sebagai Tuhan.

Sebelum bangsa Israel diperbudak, mereka hidup senang di tanah Mesir, yaitu selama bangsa Mesir berada di bawah pemerintahan Yusuf. Yusuf adalah seorang putra Israel yang dijual ke tanah Mesir oleh saudara-saudaranya oleh karena iri hati. Namun berkat pertolongan Tuhan, Yusuf dapat melalui banyak penderitaan dan pada akhirnya menjadi penguasa nomor dua di Mesir, hanya setingkat langsung di bawah Firaun yang waktu itu berkuasa. Firaun memberikan kuasa dan kepercayaan penuh kepada Yusuf untuk melakukan apapun yang dianggap Yusuf baik bagi Mesir. Kemudian Yusuf memboyong keluarganya, yaitu Yakub (yang juga disebut Israel), ayahnya, beserta seluruh keluarga saudara-saudaranya, pindah ke tanah Mesir, karena di Kanaan tempat keluarganya tadinya berdiam terjadi kelaparan hebat. Itulah awal mulanya bangsa Israel dapat tinggal di Mesir. Lama setelah Yusuf meninggal, kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf (tidak ingat lagi jasa Yusuf bagi tanah Mesir).

Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: “Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita. Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan–jika terjadi peperangan–jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini.
Oleh karena itu, raja (Firaun) itu dan rakyatnya melakukan sejumlah tindakan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk Israel:

  • Pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses. Namun segala hal tersebut ternyata tidak dapat menekan angka pertumbuhan penduduk Israel. Makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu.
  • Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.
  • Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: “Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup.” Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup. Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka: “Mengapakah kamu berbuat demikian membiarkan hidup bayi-bayi itu?” Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun: “Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat: sebelum bidan datang, mereka telah bersalin.” Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bertambah banyaklah bangsa itu dan sangat berlipat ganda. Dan karena bidan-bidan itu takut akan Allah, maka Ia membuat mereka berumah tangga.
  • Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: “Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup

Ketika wafat, Firaun dimakamkan bersama harta bendanya di makam berhias tulisan hieroglif, jenasahnya diawetkan dengan ramuan khusus, minyak dan garam, kemudian dibungkus dengan kain kedap udara yang diikat. Karena Firaun dianggap sebagai wakil bangsa Mesir dihadapan para dewa, kedamaiannya di dalam kehidupan di alam baka merupakan harapan semua anggota masyarakat.

Firaun diyakini berasal dari kata Ibrani Paroh. Sedangkan kata “Firaun” dalam bahasa Indonesia adalah bentuk dalam bahasa Arab dari kata ini. Kata Ibrani aslinya berasal dari bahasa Mesir Pr-Aa yang artinya adalah “Rumah Besar”. Pertama-pertama ini adalah istilah untuk istana kerajaan, tetapi lama-lama artinya adalah penghuni istana ini, yaitu sang raja.

Jasad Firaun Ditemukan

Prediksi dalam Al Quran bahwa jasad Firaun yang mengejar Nabi Musa akan ditemukan untuk di jadikan pengingat bagi kita semua akhirnya terbukti melalui penemuan oleh arkeolog Giovanni Battista Belzoni tahun 1817 di makam mumi firaun mesir yang tertimbun tanah.


jasad Firaun Ramses II

Maurice Bucaille peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya. Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi Musa as. Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, dan tidak ada informasi bahwa mayat Ramses II (firaun N.Musa) sebenarnya terselamatkan (karena di Injil & Taurat pun tidak disebutkan). Namun Al-Quran bisa menyebutkannya bahwa suatu ketika mayat firaun akan menjadi pelajaran untuk kita semua karena memang itu adalah firman Allah swt, bukan buat buatan Nabi Muhammad SAW. Saat ini jasad Firaun berada di musium Tahrir, di tengah kota Cairo. Seorang Arkeolog bernama Ron Wyatt pada ahir tahun 1988 silam mengklaim bahwa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno didasar laut merah. Apalagi dari hasil pengujian yang dilakukan di Stockhlom University terhadap beberapa sisa tulang belulang yang berhasil ditemukan,memang benar adanya bahwa struktur dan kandungan beberapa tulang telah berusia sekitar 3500 tahun silam,dimana menurut sejarah, kejadian pengejaran itu juga terjadi dalam kurun waktu yang sama.

Selama hidup dia tidak pernah sakit, memiliki 7000 jendral (itu baru jendral nya loh), super kaya dan berpengaruh. Saat jayanya itu Nabi Musa datang untuk mengajak Firaun mengakui Tiada Tuhan selain Allah. Menurut hadits, saat mau menyebrang laut merah, Nabi Musa membelah laut merah menjadi beberapa bagian ( jadi bukan satu), dan berdasarkan perhitungan logika oleh Ron Wyatt, membutuhkan waktu 4 jam untuk melalui nya. Detik detik terakhir sebelum Firaun meninggal, dia sebenarnya mau mengakui bahwa Allah lah Tuhannya (loh yo opo baru sadar), tapi berhubung mulutnya kemasukan pasir banyak, sehingga ia meninggal dalam kelompok golongan merugi.

Gelar firaun

Asal mula gelar Firaun terjadi pada masa awal-awal perkembangan masyarakat lembah Sungai Nil yang sangat subur yang bercorak pertanian. Untuk pengairan, masyarakat mesir kuno pada awalnya mengandalkan musim banjir dan kemudian dilengkapi dengan irigasi teknis pada masa-masa berikutnya. Karena tanah dan batas-batas tanah sangat penting dalam struktur masyarakat mesir kuno saat itu, maka diangkatlah tokoh masyarakat yang dihormati untuk mengatur batas-batas tanah dan segala hal yang menyangkut tata kehidupan masyarakat. Tetua masyarakat itu diberi gelar pharao (firaun) yang karena berkembangnya sistem kemasyarakatan dan negara, Pharao ini diangkat menjadi raja yang pada masa itu sebagai pemimpin negara dan pemimpin keagamaan.

Pada awal perkembangannya, masyarakat Mesir kuno terbagi atas Mesir hulu dan Mesir hilir yang memiliki firaun dan lambang mahkota sendiri sendiri. Raja Menes dari Thebes akhirnya menyatukan kedua daerah menjadi satu kesatuan kekuasaan. Mahkota yang digunakan adalah mahkota rangkap.

Raja Firaun tidak pernah membiarkan rambutnya terlihat orang lain. Ia selalu mengenakan mahkota atau hiasan kepala yang disebut Nemes (hiasan kepala kain bergaris bertahta topeng emas Tutankhamen).

Musa dan Firaun

Musa lahir pada pasa kepemimpinan Firaun yang dzalim.Silsilah Musa adalah Musa bin Imran bin Fahis bin ‘Azir bin Lawi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim bin Azara bin Nahur bin Suruj bin Ra’u bin Falij bin ‘Abir bin Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh Dalam wikipidia disebutkan masa itu adalah pemerintahan Maneftah yang berkuasa pada tahun 1213-1203 SM. Selain dzalim, Firaun juga sangat arogan. Dia menganggap dirinya sebagai Tuhan dan sangat takut kekuaaannya kan hilang. Apalagi ketika ada paranormal yang menafsirkan mimpi Firaun,Firaun bermimpi Mesir tebakar dan semua penduduk mati kecuali orang Israil,bahwa ada lelaki Israil yang akan merebut kekuasaan Firaun. Maka Firaun pun memerintahkan agar semua bayi laki-laki yang lahir dibunuh.

Khawatir bayinya akan dibunuh,ibunda Nabi Musa yang bernama Yukabad mendapatkan ilham dari Allah agar membuang Nabi Musa ke sungai Nil. Bayi Musa pun ditemukan oleh Asiyah yang merupakan istri Firaun. Melihat bayi yang tampan dan menggemaskan hati Asiyah langsung terpikat. Beliau meminta kepada Firaun agar Musa tidak dibunuh dan Musa dipelihara sebagai anak angkat. Firaun yang awalnya ingin membunuh sang bayi akhirnya mengabulkan permintaan istrinya. Atas kehendak Allah Musa disusui oleh Yukabad karena saat disusui orang lain Musa tidak mau. Kakak Musalah yang menyarankan pada keluarga Firaun agar Musa disusui oleh Yukabad.

Dalam kemegahan istana Firaun,Musa tumbuh menjadi pemuda yang kuat ,cerdas,dan suka membela kaum tertindas. Hingga terjadi suatu peristiwa yang membuatnya terusir dari istana. Peristiwa itu terjadi ketika Musa melihat bani Isral bernama Samiri sedang berkelahi dengan kaum Firaun bernaam Fatun. Kondisi Samiri terdesak dan dia meminta tolong pada Musa. Musa pun membantunya dengan memukul Fatun yang mengakibatkan Fatun mati. Orang-orang Firaun tidak terima dan mengejar Musa. Musa pun melarikan diri.

Dalam pelarian diri inilah Musa bertemu dengan Nabi Syuaib dan putrinya . Hingga akhirnya Musa bekerja sebagai pembantu dan dinikahkan dengan putrinya yang bernama Shafura. Setelah lebih dari sepuluh tahun hidup di luar Mesir,Musa pun memutuskan untuk kembali ke Mesir. Di perjalanan pulang inilah Musa mendapatkan wahyu kenabian,tepatnya di Bukit Thur Sina. Wahyu diberikan langsung oleh Allah. Lihat Al Quran surat An Nissa : 164 dan Thahaa : 13. Selain wahyu kenabian,Nabi Musa mendapat mukjizat berupa tongkat yang beliau bawa bisa berubah menjadi ular dan tangan saat dikepit lalu dikeluarkan menjadi putih bercahaya tanpa cacat. Allah pun memmerintahkan agar Nabi musa berdakwah kepada Firaun dengan ditemani sadaranya yang bernama Harun. Al Quran surat Taaha :43-44.”Pergilan kamu berdua kepada Firaun,karena dia benar-benar telah melampui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepada Firaun dengan kata-kata yang lemah lembut,mudah-mudahan dia sadar dan takut”

Ketika Musa dalam perjalanan pulang dari Madyan ke Mesir, bagi menghadapi Firaun dan pengikutnya yang fasik. Firaun cukup marah mengetahui kepulangan Musa yang mau membawa ajaran lain daripada yang diamalkan selama ini sehingga memanggil semua ahli sihir untuk mengalahkan dua mukjizat berkenaan. Ahli sihir Firaun masing-masing mengeluarkan keajaiban, ada antara mereka melempar tali lalu menjadi ular. Namun, semua ular yang dibawa ahli sihir itu ditelan ular besar yang berasal daripada tongkat Musa.

Firman Allah bermaksud: “Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, pasti ia akan menelan apa yang mereka buat. Sesungguhnya apa yang mereka buat itu hanya tipu daya tukang sihir dan tidak akan menang tukang sihir itu dari mana saja ia datang.”

Semua keajaiban ahli sihir itu dihancurkan Musa menggunakan dua mukjizat berkenaan, menyebabkan sebagian dari kalangan pengikut Firaun, termasuk istrinya mengikuti ajaran yang dibawa Musa. Melihatkan ahli sihir dan sebagian pengikutnya beriman dengan ajaran Nabi Musa, Firaun marah, lalu menghukum golongan berkenaan. Manakala istrinya sendiri disiksa hingga meninggal dunia.

Nabi Musa bersama orang beriman terpaksa melarikan diri sehingga mereka sampai di Laut Merah. Namun, Firaun dan tentaranya yang sudah mengamuk mengejar mereka dari belakang, tetapi semua mereka mati tenggelam di dasar Laut Merah. Al-Quran menceritakan: “Dan ingatlah ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan Firaun dan pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (Al Baqarah 2:50)

Sarah dan Firaun

Istri nabiyullah Ibrahim, Sarah? Beliau seorang wanita mulia yang sangat mempesona dengan kecantikan parasnya sekaligus wanita yang sangat mulia dengan kepribadian budinya. Suatu hari Sarah mendapat ujian keimanannya kepada Allah dan kesetiaannya pada nabiyullah. Karena dakwah Ibrahim tak diterima di negeri Babilonia, maka ia bersama istrinya Sarah pindah menuju Syam. Namun kemudian Syam dilanda paceklik. Keduanya pun pindah menuju Mesir. Di sanalah ujian Sarah dimulai.

Suatu hari, seorang pejabat istana melihat kedatangan Ibrahim dan Sarah. Sontak pejabat itu menyukai paras cantik Sarah. Ia pun segera menuju istana dan mengabarkannya pada Fir’aun, “Telah datang di negeri Baginda ini seorang pria asing. Ia datang bersama dengan wanita yang sangat menarik. Kecantikannya tak ada yang menandingi. Wanita seperti itu layak menjadi pendamping baginda,” kabarnya. Maka sang raja pun segera memanggil Ibrahim untuk datang ke istana. Raja yang berkuasa saat itu adalah Fir’aun I yang terkenal sangat dzalim. Sang raja sangat menginginkan Sarah. Jikalau ia tahu Sarah telah bersuami, maka suaminya pasti akan dibunuh agar sang raja mendapatkan wanita cantik itu.

Maka ketika sang raja bertanya kepada Ibrahim, “Siapa wanita itu?” maka Nabi Ibrahim menjawab, “Dia adalah saudariku,” kata nabi. Maka Nabi Ibrahim pun dilepaskan sang raja dan meminta Sarah agar tinggal di istana.  Sepulang dari istana, beliau berkata kepada istrinya, “Wahai Sarah, tak ada yang beriman di muka bumi ini kecuali aku dan kamu. Raja itu bertanya tentangmu dan aku mengatakanbahwa kau adalah saudariku. Kalau ia tahu kau adalah istriku maka ia akan mengalahkanku untuk mendapatkanmu. Dan memang kau adalah saudara perempuanku dalam Islam,” ujar Ibrahim.

Sarah pun segera dibawa ke istana. Hati Sarah berkecamuk. Pakaiannya sangat indah dengan pelayan yang menyediakan kebutuhannya, namun perasaan Sarah sedih bukan kepalang. Ia enggan berpisah denan suaminya dan takut tersentuh Fir’aun yang jahat. Maka Allah lah satu-satunya tempat mengadu dan meminta pertolongan.

Sarah beribadah, sujud dan mengadu kesedihannya. Ia memohon kepada Allah agar melindunginya. “Ya Allah, jikalah Engkau mengetahui bahwa aku beriman kepadaMu dan RasulMu, mengetahui bahwa aku menjaga kehormatanku untuk suamiku, maka janganlah kau jadikan raja kafir itu berkuasa atasku,” pinta Sarah tersedu. Allah pun mendengar doa Sarah dan mengabulkannya. Acapkali sang raja ingin menyentuh Sarah, tangannya segera lumpuh. Fir’aun tak mampu bergerak. Maka ia pun berkata pada Sarah, “Aku berjanji tak akan mengganggumu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar melepaskan pnyakit ini,” ujarnya.

Lalu Sarah pun kembali berdoa dan sang raja segera sembuh. Namun ia mengingkari janjinya. Ia kembali mendekati Sarah setelah tangannya dapat kembali bergerak. Namun saat hendak memegang Sarah, Fir’aun kembali lumpuh. Ia pun kembali berjanji, “Aku berjanji tak akan mengganggumu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar melepaskan pnyakit ini,” ujar sang raja. Namun saat sembuh, ia kembali mendekati Sarah. Terus demikian peristiwa itu terjadi. Hingga sang raja pun menyerah. Fir’aun justru akhirnya ketakutan dengan kemampuan benteng diri Sarah. Ia pun menudingnya sebagai makhluk halus yang mampu melakukan tipu daya. Kelumpuhannya dimaknainya sebagai buatan syaitan.  Fir’aun segera memanggil pengawalnya dan berkata, “Kau tidaklah membawa seorang wanita melainkan membawa setan,” serunya. Maka si pengawal pun diperintah membawa kembali Sarah ke rumahnya. Sebelum pulang, raja memberikan seorang budak kepada Sarah sebagai hadiah. Budak itu pun seorang wanita yang cantik, bernama Hajar. Ia lah yang nantinya menjadi istri kedua Ibrahim sekaligus ibunda nabi Ismail. Adapun Sarah merupakan ibunda Nabi Ishaq.  Saat tiba di rumah, Ibrahim pun bertanya kepada Sarah, “Apa yang terjadi?” Lalu Sarah menjawab, “Allah telah menolak tipu daya raja kafir itu dan ia memberiku seorang pelayan wanita,” jawab Sarah. Demikian kisah Sarah yang mendapat perlindungan Allah. Kisah tersebut dikabarkan oleh Abu Hurairah. Rujuklah Ibnu Katsir dalam kitabnya Qashshashul Anbiya, atau kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqalaniy.

Supported by :
https://mediaanakindonesia.files.wordpress.com/2010/12/img00055-20101205-1659.jpg?w=291&h=218KORANDO – Koran Anak Indonesia. Yudhasmara Foundation Editor in Chief: Audi Yudhasmara. Co-editor: Sandiaz Yudhasmara. Foundation Director : Dr Widodo judarwanto pediatrician. Publisher : Narulita dewi. Editor: Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin.Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General support : Prabuningrat, Sis Wahyudi, Vavan PrayudhaDr Widodo judarwanto pediatrician. Publisher : Narulita dewi. Editor in Chief : Digna Betanandya. Reporter : Audi Yudhasmara. Sandiaz Yudhasmara, Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin.Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General support : Prabuningrat, Sis Wahyudi.

“PUPUK MINAT BACA ANAK DAN REMAJA INDONESIA SEJAK DINI”. Membaca adalah investasi paling kokoh bagi

masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. “SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA”.

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat  Phone : (021) 5703646

email : korando@gmail.com http://korananakindonesia.com/

Copyright 2014. Koran Anak Indonesia Network Information Education Network. All rights reserved
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s