Planet Mars, Misteri Yang Semakin Terungkap


https://mediaanakindonesia.files.wordpress.com/2010/11/mars27583.jpg?w=300

Kemajuan Teknologi terus berkembang sangat cepat seiring dengan pengetahuan astronomi yang semakin maju. Misteri planet Marspun sedikit demi sedikit mulai terungkap dengan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi astronomi.

Mars
Mars adalah planet terdekat keempat dari Matahari. Namanya diambil dari nama Dewa perang Romawi. Namun planet ini juga dikenal sebagai planet merah karena penampakannya yang kemerah-merahan. Lingkungan Mars lebih bersahabat bagi kehidupan dibandingkan keadaan Planet Venus. Namun begitu, keadaannya tidak cukup ideal untuk manusia. Suhu udara yang cukup rendah dan tekanan udara yang rendah, ditambah dengan komposisi udara yang sebagian besar karbondioksida, menyebabkan manusia harus menggunakan alat bantu pernapasan jika ingin tinggal di sana. Misi-misi ke planet merah ini, sampai penghujung abad ke-20, belum menemukan jejak kehidupan di sana, meskipun yang amat sederhana.

Planet ini memiliki 2 buah satelit, yaitu Phobos dan Deimos. Planet ini mengorbit selama 687 hari dalam mengelilingi matahari. Planet ini juga berotasi. Kala rotasinya 25,62 jam. Dalam mitologi Yunani, Mars identik dengan dewa perang, yaitu Aries, putra dari Zeus dan Hera.

Di planet Mars, terdapat sebuah fitur unik di daerah Cydonia Mensae. Fitur ini merupakan sebuah perbukitan yang bila dilihat dari atas nampak sebagai sebuah wajah manusia. Banyak orang yang menganggapnya sebagai sebuah bukti dari peradaban yang telah lama musnah di Mars, walaupun di masa kini, telah terbukti bahwa fitur tersebut hanyalah sebuah kenampakan alam biasa

Masa Lalu Mars

Sebuah batu meteor seukuran buah semangka raksasa yang ditemukan di Planet Mars menjadi salah satu petunjuk pengungkap tabir masa lalu planet merah tersebut. Meteor Mars itu berbobot setidaknya 0,5 ton sehingga dianggap terlalu besar untuk menembus atmosfer Mars yang tipis dan mendarat tanpa hancur. Hal itu memunculkan dugaan atmosfer Mars pada masa lalu jauh lebih tebal dari yang diduga selama ini atau batu tersebut jatuh miliaran tahun lalu saat atmosfer Mars jauh lebih tebal. ”Ada kemungkinan, Mars mempunyai karbon dioksida padat yang dapat menyuplai gas karbon dioksida dalam jumlah besar ke atmosfer selama ’musim panas’ pada siklus iklim belakangan ini atau batu jatuh miliaran tahun lalu,” ujar Matt Golombek, anggota tim peneliti di Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California.

Atmosfer planet dapat memperlambat kecepatan jatuh meteor karena ada gesekan. Kendaraan NASA, Opportunity, menemukan meteor mengandung logam, yang kemudian dinamai Block Island oleh para ilmuwan, pada akhir Juli lalu. Block Island panjangnya sekitar 60 cm dan tingginya sekitar 30 cm, dengan noda kebiruan. Batu itu sepuluh kali lebih besar dari Heat Shield Rock, batu Mars lain yang ditemukan tahun 2004.

Penjelajahan ke Planet Mars

Berkali-kali para ilmuwan mengungkap mimpinya menjelajahi Mars dengan mengirim misi berawak ke sana. Perjalanan yang lama menjadi salah satu hambatan yang dipertimbangakan matang. Pertanyaannya, apakah astronot yang dikirim bisa bertahan hidup dan pulang dengan selamat?

Namun, konsep misi penjelajahan ke Mars yang baru-baru ini diusulkan mengabaikan risiko tersebut. Malahan, misi ini bakal menjadi pembuka jalan invasi manusia ke Mars. Seperti misi penjelajahan antarbenus di masa lalu yang dilakukan Colombus dan kawan-kawannya, manusia pun seharusnya bisa bertahan saat memutuskan mencari destinasi baru di planet lain.

Mungkin inilah saatnya bagi Anda untuk bergabung dalam misi tinggal di Mars, tanpa perlu berpikir kembali. Badan Antariksa AS (NASA) dilaporkan tengah mencari sukarelawan yang bersedia menjalankan misi untuk pergi ke Mars tanpa kembali. Misi tersebut adalah bagian dari misi NASA bertajuk “Hundred Years Ship” yang bertujuan menjajaki kemungkinan manusia untuk dapat hidup di Mars.

Untuk melaksanakan misi itu, salah satu lembaga penelitian NASA yaitu Ames Research Center telah menyediakan anggaran dana lebih dari 1 juta dollar AS. Para anggota tim peneliti juga mendapatkan tambahan dana 100 ribu dollar per orang untuk menyiapkan misi tersebut.

Dirk Schulze-Makuch dari Washington State University dan dan Paul Davies dari Arizona State University dalam tulisannya yang dipublikasikan di Journal of Cosmology mengatakan bahwa misi ini adalah misi yang sangat menjanjikan. Dua ilmuwan tersebut menekankan bahwa misi ini bukanlah misi bunuh diri. Mereka mengatakan bahwa perjalanan ini bisa menjadi permulaan kolonisasi manusia di Mars dalam jangka panjang, menjadikan manusia sebagai spesies multiplanet.

Pengiriman manusia ke Mars ini bisa menghemat biaya observasi sebab tak perlu menyediakan bahan bakar untuk kembali ke bumi. Misi itu juga bisa jadi kesempatan untuk “melestarikan” spesies manusia jika suatu saat nanti ada bencana yang menyapu habis seluruh spesies di bumi.   “Ada banyak alasan mengapa kolonisasi manusia ke Mars bisa menjadi tujuan yang menjanjikan secara ilmiah maupun politik. Strategi one way trip ini membantu untuk mencapai tujuan dengan kemurahan teknologi dan finansial,” ungkap Makuch dan Davise.

Rencana ini memang memiliki banyak resiko, namun para ilmuwan menganggap bahwa resiko memang selalu ada dalam tiap ekspedisi. ia mencontohkan, beberapa abad silam sekelompok orang-orang Eropa pergi ke AS dengan nekat tanpa harapan mereka bisa kembali ke Eropa lagi. “Pendekatan untuk menjalankan misi ini bisa dimulai dengan mengirimkan empat astronot dengan dua pesawat ruang angkasa, jadi dua orang dalam satu pesawat. Mereka akan diberi pasokan yang cukup untuk bertahan di Mars,” kata Schulze-Makuch.

Schulze-Makuch juga mengatakan bahwa pencarian tempat yang tempat mungkin juga bisa dimulai. Mars memiliki beberapa tempat yang cocok untuk berlindung. Pada daerah Mars yang kaya es, manusia bisa memanfaatkan esnya sebagai sumber air dan oksigen.

Ketika beberapa manusia telah mampu mencari sumber daya, mereka bisa memanfaatkan dan mengolah sumber daya alam yang ada di planet tersebut. Akhirnya, manusia pun bisa melakukan ekspansi di planet yang diklaim paling mirip bumi tersebut.

Mars Bisa Dihuni ?

Pencarian planet-planet baru yang bisa dihuni masih belum berhenti. Misi lama, seperti mencari tanda-tanda kehidupan di Mars dan kemungkinan bahwa planet itu bisa dihuni hingga kini masih dijalankan. Menggunakan spektrometer Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA, para peneliti dari Brown University baru-baru ini menemukan gundukan mineral silika di Planet Mars. Mereka menemukannya di daerah planet yang disebut Syrtis Major, tepatnya di wilayah gunung berapi Nili Patera yang berusia 3,7 miliar tahun.

Melihat letaknya yang ada di dekat gunung berapi, peneliti menduga bahwa gundukan silika itu berasal dari sumber air panas yang pernah ada di wilayah itu. Gundukan itu terbentuk ketika air panas keluar dan melarutkan batuan, membuatnya kaya akan mineral silika yang berasal dari batuan. Ketika air mendingin dan kontak dengan udara, material yang disebut hydrated silika terbentuk dan menyusun gundukan yang kini ditemukan. Adanya gundukan silika yang berasal dari sumber air panas ini, menurut peneliti, merupakan salah satu tanda bahwa ada lingkungan kecil di Planet Merah yang bisa dihuni. “Ketika Anda punya air dan panas, seperti yang terdapat di tempat ini, Anda punya kesempatan untuk tinggal dan hidup,” kata John Mustard, profesor geologi yang terlibat dalam penelitian ini.

Peneliti lain, JR Skok, yang juga berasal dari universitas yang sama, menduga bahwa adanya sumber air panas itu paling tidak menandakan, pernah ada kehidupan primitif, seperti mikroorganisme. Jika hipotesis tersebut benar, maka ia mengungkapkan, “Akan sangat mungkin untuk menemukan kumpulan fosil mikroorganisme di wilayah itu.”

Sejauh ini, belum ada bukti nyata tentang adanya kehidupan di Mars. Namun, temuan adanya silika di Mars ini bukanlah yang pertama. Penemuan sebelumnya pernah dilakukan pada tahun 2007 oleh misi Mars Spirit milik NASA. Keunikan temuan ini adalah adanya gundukan silika yang utuh. Hasil penelitian ini dipublikasikan oleh John Mustard dan JR Skok di jurnal Nature Geoscience tanggal 31 Oktober 2010. Ke depan, para peneliti berharap bisa mendeteksi seberapa mungkinkah lingkungan ini untuk dihuni, misalnya dengan melihat temperatur dan keasamannya.

Mars

Planet Mars

Mars adalah planet terdekat keempat dari Matahari. Namanya diambil dari dewa perang Romawi, Mars. Planet ini sering dijuluki sebagai “planet merah” karena tampak dari jauh berwarna kemerah-kemerahan. Ini disebabkan oleh keberadaan besi(III) oksida di permukaan planet Mars.Mars adalah planet bebatuan dengan atmosfer yang tipis. Di permukaan Mars terdapat kawah, gunung berapi, lembah, gurun, dan lapisan es. Periode rotasi dan siklus musim Mars mirip dengan Bumi. Di Mars berdiri Olympus Mons, gunung tertinggi di Tata Surya, dan Valles Marineris, lembah terbesar di Tata Surya. Selain itu, di belahan utara terdapat cekungan Borealis yang meliputi 40% permukaan Mars.

Lingkungan Mars lebih bersahabat bagi kehidupan dibandingkan keadaan Planet Venus. Namun begitu, keadaannya tidak cukup ideal untuk manusia. Suhu udara yang cukup rendah dan tekanan udara yang rendah, ditambah dengan komposisi udara yang sebagian besar karbondioksida, menyebabkan manusia harus menggunakan alat bantu pernapasan jika ingin tinggal di sana. Misi-misi ke planet merah ini, sampai penghujung abad ke-20, belum menemukan jejak kehidupan di sana, meskipun yang amat sederhana. Planet ini memiliki 2 buah satelit, yaitu Phobos dan Deimos. Planet ini mengorbit selama 687 hari dalam mengelilingi matahari. Planet ini juga berotasi. Kala rotasinya 25,62 jam.

Di planet Mars, terdapat sebuah fitur unik di daerah Cydonia Mensae. Fitur ini merupakan sebuah perbukitan yang bila dilihat dari atas nampak sebagai sebuah wajah manusia. Banyak orang yang menganggapnya sebagai sebuah bukti dari peradaban yang telah lama musnah di Mars, walaupun di masa kini, telah terbukti bahwa fitur tersebut hanyalah sebuah kenampakan alam biasa.

Sumber : wikipedia, kompas dan sumber lainnya

ARTIKEL ASTRONOMI DAN ANTARIKSA LAINNYA

Audi Yudhasmara
Supported by :
https://mediaanakindonesia.files.wordpress.com/2010/12/img00055-20101205-1659.jpg?w=291&h=218KORINDO – Koran Anak Indonesia. Yudhasmara Foundation Editor in Chief: Audi Yudhasmara. Co-editor: Sandiaz Yudhasmara. Foundation Director : Dr Widodo judarwanto pediatrician. Publisher : Narulita dewi. Editor: Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin.Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General support : Prabuningrat, Sis Wahyudi, Vavan PrayudhaDr Widodo judarwanto pediatrician. Publisher : Narulita dewi. Editor in Chief : Digna Betanandya. Reporter : Audi Yudhasmara. Sandiaz Yudhasmara, Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin.Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General support : Prabuningrat, Sis Wahyudi.

“PUPUK MINAT BACA ANAK DAN REMAJA INDONESIA SEJAK DINI”. Membaca adalah investasi paling kokoh bagi

masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. “SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA”.

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat  Phone : (021) 5703646

email : korando@gmail.com http://korananakindonesia.com/

Copyright 2013. Koran Anak Indonesia Network Information Education Network. All rights reserved
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s