Prioritaskan Anak Dalam Mitigasi Bencana Erupsi Gunung Merapi


Beberapa anak jadi korban tewas terbakar akibat mengganasnya awan panas gunung Merapi. Seharusnya anak jadi prioritas dalam mitigasi bencana itu. Karena, anak adalah manusia yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri.

Berbagai permasalahan akan timbul paska bencana erupsi gunung Merapi. Kadangkala masalah tersebut dapat lebih serius bila tidak direncanakan dan ditangani dengan baik. Bencana erupsi gunung Merapi dengan berbagai permasalahan menyebabkan lingkungan yang tidak sehat. Debu vulkanik yang demikian pekat dan banyak sangat berbahaya bila terhirup dalam jumlah berlebihan. Keadaan dan lingkungan demikian akan berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Penyediaan air bersih seringkali terganggu, demikian pula masyarakat akan kesulitan mencari sarana kamar mandi dan WC. Buang air besar dan air kecil yang sembarangan dapat mempermudah penularan penyakit. Bila hal ini terjadi maka kebutuhan untuk pola hidup bersih jauh dari sempurna.

Keadaan lingkungan akan semakin buruk bila terjadi pada daerah pengungsian. Jumlah manusia yang sangat banyak dan berjejal dalam satu ruangan memudahkan penyebaran penyakit baik lewat penularan melalui udara atau kontak langsung. Infeksi saluran napas atas sebenarnya bukan akibat langsung dari debu vulkanik. Tetapi lebih disebabkan karena lingkungan pengungsian yang demikian padat ditambah daya tahan menurun akibat stres, kurang istirahat, dan asupan nutrisi yang kurang. Padatnya tempat pengungsian yang dihuni puluhan bahkan ratusan pengungsi adalah media penulatan penyakit paling mudah. Bila seseorang terjangkit infeksi dapat dengan mudah pengungsi lainnya akan tertular. Sehingga koordinator harus jeli dalam mengamati wilayah pengungsiannya. Bila terdapat seseorang mengalami infeksi yang berbahaya harus diisolasi dengan pengungsi lainnya.

Gangguan alam ini bukan hanya mengganggu manusia, binatang juga tak luput dari ancaman. Tidak hanya manusia, tetapi binatang seperti tikus, kucing dan anjing ikut binasa karena terbakar karena awan panas. Bangkai manusia dan binatang yang belum terselamatkan dapat menimbulkan masalah kesehatan tersendiri. Pasca gempa yang diikuti musim penghujan dapat bersiko masalah kesehatan lainnya. Kasus penyakit demam berdarah bersiko meningkat, karena banyak terjadi genangan air dimana-mana yang menjadi berkembang biak nyamuk aedes aegypti.

Bahaya lain yang dapat mengancam jiwa adalah terkena sengatan aliran listrik. Bangunan dan sarana listrik menjadi berantakan, bila aliran listrik dihidupkan beresiko trauma sengatan Bencana alam tersebut dalam kondisi tertentu akan mengakibatkan harta benda dan nyawa bisa terancam.

Kondisi ini akan mengganggu ekonomi dan psikologis masyarakat. Post Traumatic Stress Disorders adalah dampak psikologis bagi para korban, terutama pada anak-anak. Mereka akan selalu teringat dengan peristiwa buruk yang telah dialaminya. Gejala yang timbul adalah sering menangis, mudah marah dan berteriak, mimpi buruk, sulit tidur , tidak mau makan, tidak mau bermain. Keadaan ini akan menjadi lebih berat bila ditambah dengan beban psikologis kehilangan orangtua atau saudara. Dalam keadaan berat bisa mengakibatkan perasaan depresi yang lebih berat seperti hendak melakukan bunuh diri dan gangguan kejiwaan lain yang berkepanjanagan. Bila hal ini tidak ditangani segera akan dapat mengganggu kesehatan dan proses tumbuh dan berkembangnya anak. Usia anak daya tahan tubuhnya rentan, ditambah gangguan asupan gizi, trauma panas, hujan dan dingin, serta trauma psikis akan memperburuk keadaan. Berbagai keadaan tersebut akan mengakibatkan daya tahan tubuh menurun dan mudah terserang penyakit dan ancaman jiwa saat terjadi dalam pengungsian.

Antisipasi

Mengingat rumitnya masalah pasca bencana gempa, maka program tanggap darurat tersebut harus dikoordinasikan secara baik dan terencana dalam satu wilayah. Masalah kesehatan yang harus menjadi prioritas dan diantisipasi dalam penanganan gempa adalah masalah asupan nutrisi baik makanan pokok atau susu bagi bayi dan anak. Trauma panas dan hujan saat di pengungsian harus diantisipasi dengan pembangunan tenda darurat yang layak, serta pemberian sandang dan selimut yang cukup untuk menghindari udara dingin. Di dalam pengungsian bila didapatkan penderita penyakit menular seperti campak, cacar air, diare sebaiknya dipisahkan dari rombongan pengungsi dengan melakukan rawat inap di rumah sakit.

Bila tempat pengungsian sudah ada yang terjangkit penyakit menular seperti campak, maka instansi kesehatan seperti puskesmas atau dinas kesehatan harus segera melakukan imunisasi masal di daerah tersebut. Bagi masyarakat umum dan relawan sebaiknya memberi bantuan makanan dan minuman siap saji, makanan instan, susu bayi, air mineral, baju, selimut, plastik untuk alas dan atap tidur, pakaian layak pakai atau obat-obatan. Bantuan lain yang mungkin juga perlu untuk anak khususnya penanganan trauma pskis adalah berupa mainan, bacaan, alat tulis, alat gambar, alat sekolah, alat tulis, seragam dan baju sekolah. Perlu segera dibentuk bantuan dapur umum, penyediaan air bersih, tempat MCK, pengobatan gratis di sekitar pengungsian.

Dalam menangani gangguan trauma psikologis tersebut karena situasi dan keterbatasan sarana dan tenaga tidak perlu menunggu tenaga psikolog atau psikater. Para relawan harus dapat dapat memberikan terapi kepada anak-anak, seperti misalnya melalui terapi bermain, bernyanyi, bercerita, lomba anak-anak, menggambar, maupun dalam bentuk terapi-terapi lainnya yang tujuannya agar anak-anak lupa dengan peristiwa buruk yang pernah dialaminya. Bukankah gempa di Padang sudah diprediksi ahli geologi beberapa tahun yang lalu? Entah diremehkan atau hal lain mengakibatkan program pencegahan dalam Mitigasi Bencana Letusan Gunung Merapi tidak diantisipasi sejak dini. Bila antisipasi sejak dini dilakukan paling tidak dapat meminimalkan korban. Selanjutnya penanganan korban bencana harus dilakukan koordinasi yang baik terutama pada korban anak-anak. Jangan sampai korban nyawa bertambah, hanya karena penanganan paska bencana yang tidak optimal.

Provided by SAVE OUR CHILDREN Yudhasmara Foundation http://saveindonesianchildren.wordpress.com

Artikel terkait lainnya :

 

www.korananakindonesia.com

https://mediaanakindonesia.files.wordpress.com/2010/12/img00055-20101205-1659.jpg?w=291&h=218Supported by : KORANDO – Koran Anak Indonesia. Yudhasmara Foundation. “Pupuk Minat baca Anak sejak Dini. Membaca adalah investasi paling kokoh bagi masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. “SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA” Editor in Chief: Audi Yudhasmara. Co-editor: Sandiaz Yudhasmara. Foundation Director : Dr Widodo judarwanto pediatrician. Publisher : Narulita dewi. Editor: Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin. Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General support : Prabuningrat, Sis Wahyudi, Vavan Prayudha, Editor in Chief : Audi Yudhasmara. Reporter : Audi Yudhasmara. Sandiaz Yudhasmara, Nanda Prawira. Marketing : Elvareta Alphanandia Andelin. Design-Multi media : Santana Arif. Data-Dokumentasi : Ariani Santika. Finance : Julia Firdausi. General Support : Prabuningrat, Sis Wahyudi.. Address: Menteng Square AR 20 Jln Matraman 30 Jakarta Pusat. Phone: 021-29614252 – 08131592-2012 – 08131592-2013 Mobil Phone: 089690509906 email : judarwanto@gmail.com http://korananakindonesia.com/ Komunikasi facebook: Koran Anak Indonesia

Copyright 2014. Koran Anak Indonesia Network Information Education Network. All rights reserved

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s